Sabtu, 31 Desember 2016

Tahun Baru Ana


An
Lihatlah ke langit penuh warna
Cahaya melesat dari bumi
Lalu pecah, berhamburan di tanah

An
Warna warni kembang api
Tak sepadan lampu jalanan
Warnanya menarik pandang setiap mata
Semua bergembira, berteriak dan tertawa

Bukan kah sangat berbeda An
Dibawah lampu jalanan itu
Kita hanya saling bersandar
Tertidur pulas kelelahan

An
Tiup terompetmu paling keras
Buang lepas gila dan waras
Pecahkan lah keheningan pendam lah tangisan

An
Inilah dunia penuh hura-hura
Momentum apapun harus ada pesta
Mereka tak kenal sengsara atau derita
Kita saja lah yang memanggulnya

An
Esok tahun berganti
Setiap hamba berdoa Pada Tuhan-Nya
Memohon peruntungan dalam hidup
Jodoh-Rezeki-Anak-Lulus-Kerja-Masuk surga

An
,,,,
,,,,
Apa isi doamu

Kau terpejam mengangkat kedua tangan
Kau menangis dalam penuh penghayatan
Kau mengucap satu kalimat berulang-ulang
Kau pun menarik nafas dan tersenyum tenang

An
,,,,
,,,,
Apa isi doamu
Zakiya FR

Selasa, 27 Desember 2016

Watak Penindas Babi dan Manusia



Oleh : Zakiya FR
Judul                           ; Animal Farm
Penulis                         ; George Orwell
Penerjemah                  ; Prof. Bakdi Soemanto
Tahun terbit                 ; Oktober 2016
Penerbit                       ; Bentang Pustaka
Jumlah halaman           ; 142 halaman

Animal farm akan mengantarkan pembaca pada pemahaman tentang pemberontakan, keadilan, politik, serta cara memperlakukan kemerdekaan yang sebenarnya

Novel ini bercerita tentang pemberontakan binatang di peternakan Manor terhadap manusia. Malam itu, melalui orasi yang membara dari si tua Major, babi putih yang terhormat, para binatang menyadari bahwa selama ini mereka telah diperbudak dengan kejam. Telur-telur ayam betina dijual, susu sapi diperah setiap harinya, tenaga kuda dikuras untuk mengolah kebun, sementara mereka hanya diberi imbalan makan dan tempat tinggal. Kesadaran itu diperkuat dengan adanya mimpi si Major tentang bagaimana kondisi bumi setelah manusia punah. Dalam mimpinya pula, terngiang kembali lagu ‘binatang Inggris’, lagu yang pernah dinyanyikan oleh para leluhur, beberapa tahun silam. Lagu itu lah yang menjadi bahan bakar semangat pemberontakan para binatang. Mereka pun mulai menyusun rencana untuk menggulingkan kekuasaan Jones, pemilik ‘peternakan Manor’, untuk segera menggantinya dengan nama ‘Peterkan  binatang’.
Pemberontakan para binatang dipimpin oleh para babi, yang dikenal paling cerdas diantara mereka. Terutama, dua babi yang unggul, Snowball dan Napoleon. Sebelum hari pemberontakan, si tua Major meninggal. Maklum, ia sudah berusia 12 tahun. Dipimpin oleh para babi, pemberontakan pun terjadi. Melalui persatuan dan kesatuan, mereka berhasil mengusir Jones dan istrinya, serta seluruh anak buanya dari peternakan.
Setelah hari pemberontakan, lagu-lagu “Binatang Inggris” lebih sering dinyanyikan. Mereka mulai membangun sistem peternakan yang baru. Tentunya, mereka akan mengganti tulisan ‘peternakan Manor’ dengan ‘peternakan Binatang’. Undang-undang pun disusun, memuat 7 ketentukan larangan dan kewajiban. Muncul pula semboyan bagi para binatang, yakni “kaki empat baik, kaki dua jahat”.
Para binatang mulai merasakan perubahan kehidupan yang lebih baik. Meskipun mereka harus bekerja lebih keras dari biasanya, tapi setidaknya itu lebih trehormat. Mereka dapat menikmati hasil jerih payah untuk diri sendiri. Sesuai dengan pesan si Major, para binatang tidak boleh meniru satu pun gaya manusia. Karena dengan meniru gaya mereka, sama saja dengan menjadi penindas.  Misalnya, minum wiski, tidur di ranjang, memakai pakaian manusia, membunuh binatang, merendahkan satu sama lain, dan segala hal yang dilakukan manusia. Para binatang itu hanya perlu bergotong royong, untuk mempertahankan peternakan binatang , saling menyayangi, saling berbagi , dan perduli.
Namun, semua hal indah itu tidak bertahan lama. Ketika nafsu berkuasa, segalanya berubah menjadi lebih buruk. Diawali dengan  perseteruan Snowball dan Napoleon. Kedua babi ini memang selalu mempunyai gagasan yang bertentangan. Hingga pada suatu hari, Napoleon berhasil mengusir Snowball dari peternakan Binatang dan menjadi pemimpin tunggal. Napoleon adalah babi yang rakus dan otoriter. Dia menjinakkan para binatang dengan anjing-anjing penjaganya. Tidak ada satupun binatang yang berani melawan perintahnya. Karena bagi siapa saja yang membantah, protes, atau menolak segala ketentuan Napoleon, dia akan mati seketika, diterkam para anjing penjaga.
Kebijakan baru mulai diterapkan. Para babi diberikan hak istimewa, melebihi binatang lain nya. Tugas para babi hanya mengoceh dan memerintah. Mereka di izinkan utuk menempati rumah Jones, yang sebelumnya tidak boleh ada satupun binatang yang tinggal disana. Para babi pun mulai melakukan kebiasan-kebiasaan manusia, seperti tidur di ranjang meminum Wiski, bahkan membunuh binatang lain. Semua perbuatan mereka, dilegitimasi oleh 7 Undang-undang yang telah mereka rubah redaksinya. Sehingga, tidak ada satupun binatang yang protes. Para babi itu juga menciptakan lagu baru, yang menjunjung kepemimpinan Napoleon, dan melarang para binatang menyanyikan lagu “Binatang Inggris”. Sementara para babi hidup bermewah-mewahan dan tanpa susah sedikitpun, binatang yang lain seperti kuda, sapi, ayam, bebek, mereka bekerja begitu keras setiap harinya. Tak perduli apakah itu musim panas atau musim dingin, para binatang akan tetapa bekerja keras untuk mempertahankan peternakan binatang yang sangat mereka cintai. 
Tidak ada satupun binatang yang menyadari ketertindasan mereka. Para binatang itu terlalu bodoh. Maklum, hanya beberapa binatang saja yang mampu membaca. Mereka juga terlalu lemah untuk mengingat hal-hal apa saja yang berubah sebelum dan sesudah si Jones pergi. Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja, tanpa memperdulikan segala perubahan yang terjadi. Tidak ada perlawanan. Bagaimana pula mereka akan melawan Napoleon, si pemimpin otoriter itu, jika dia selalu dijaga oleh 7 anjing dengan taring-taring yang mengerikan. Tidak ada yang berani.
Puncak dari segala keburukan di Peternakan Binatang, terjadi saat Napoleon menjalin kerjasama dengan selusin manusia. Mereka tampak akrab satu sama lain, duduk melingkar pada sebuah meja sambil bermain kartu dan menimun anggur dari gelas-gelas yang besar. Pada pertemuan itu lah, para binatang mulai memendam rasa curiga. Betapa kaget nya mereka, saat mendengar perbincangan yang serasa mustahil untuk didengar. Bagimana mungkin, Napoleon dan selusin manusia itu merencakan utuk meniadakan Peternakan Binatang dan menggantinya kembali dengan peternakan Manor. Bahkan, Napoleon telah bersepakat untuk menjalin kerjasama dengan manusia, musuh yang senyata-nyatanya bagi para binatang sejak pemberontakan dilakukan. Sungguh pun demikian, tidak ada bedanya antara Babi dan Manusia. Mereka sama-sama menjadi lakon penindas, dalang kesengsaraan bagi kaum sesamanya.

Senin, 26 Desember 2016

Harapan Bumi Nusantara



            Si Islam, si Kristen, Si Hindu. Label-label tersebut muncul dan secara tidak langsung berkesan diskriminatif. Tuhan telah menciptakan manusia dengan agamanya yang berbeda-beda di bumi ini. Namun sepertinya manusia salah dalam menjalin hubungannya dengan manusia lain yang tampak berbeda dengan dirinya.
            Saat ini lidah terasa kelu untuk mengucap “saudara” kepada sesama manusia. Namun mudah sekali untuk memendam benci dalam hati demi memperjuangkan kepentingan kelompok. Saat ini tangan terasa kaku untuk merangkul sesama manusia, namun terus menggandeng erat sesama kelompok demi menjatuhkan kelompok lain. Dan saat ini juga, penyempitan berpikir tengah meracun dan menolak segala gagasan yang bertolak belakang dengan pemikiran pribadi tanpa mau untuk menimbang kembali.
            Bentuk keegoisan tengah membutakan umat manusia. Maksud hati memberikan pembelaan terhadap kelompoknya, namun tak mampu menghindar dari konflik, kebencian, permusuhan, dan diskriminasi. Bahkan kata “maaf” tak lagi berharga sebelum lawan merasakan penderitaan. Lalu, bagaimanakah generasi-generasi selanjutnya akan hidup dengan doktrin-doktrin kebencian yang telah tertanam?
            Perbedaan akan agama merupakan salah satu anugerah Tuhan terindah di muka bumi di samping multikulturalisme. Kemajemukan agama-agama yang tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara telah menjadi sorotan dunia bahkan panutan akan toleransi yang terjalin di dalamnya. Terutama bagi negara-negara yang sedang mengalami krisis toleransi bahkan konflik keberagaman.
            Akhir-akhir ini konflik bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) tengah menjadi perbincangan hangat di semua kalangan khususnya masyarakat Indonesia. Pembahasan agama menjadi topik sensitif yang perlu diperhatikan. Perlu diingat kembali bahwa perjuangan para founding fathers dalam menyatukan setiap umat beragama di Indonesia sangatlah memeras pikiran. “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” telah mengalami perubahan yang lebih bersifat universal menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.  Perubahan tersebut secara otomatis telah menghilangkan sifat diskriminatif. Sehingga mampu untuk mencerminkan pluralitas di Indonesia.
            Setiap agama tentu bertujuan dalam kebaikan begitupun ajaran-ajarannya. Di samping itu setiap umat beragama tidak jarang akan menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar dibandingkan dengan agama yang lain. Sehingga apabila terdapat pergesekan yang melibatkan permasalahan agama, tak pelak memunculkan adanya konflik. Dan isu-isu seperti ini akan dengan mudah menjalar di kalangan masyarakat luas yang akhirnya memancing setiap kelompok beragama berbondong-bondong memberikan pembelaan kepada kelompok agamanya.
            Keegoisan, emosi sesaat, nafsu terkadang telah menutup hati dan mata sehingga tak mampu untuk melihat sisi yang lain. Perilaku-perilaku negatif hasil dari gejolak pribadi tak jarang menimbulkan efek anarkis yang merugikan setiap lini kehidupan. Manusia yang tidak tahu menahu menjadi korban, begitupun bidang politik, ekonomi, sosial dan sebagainya turut terseret ke dalamnya akibat dari tindakan gegabah. Saat ini di mana krisis toleransi tengah menerjang sangat membutuhkan hadirnya para bijaksana, para pemikir luas, dan para adil untuk dapat menjadi panutan dan pembimbing masyarakat atas kebingungan yang terjadi. Masyarakat harus segera dipahamkan dan disadarkan akan kondisi bangsanya yang beranekaragam untuk dapat berintegrasi dan bergandengan tangan guna menciptakan kedamaian dan menjauhi saling hujat.
            Bangsa Indonesia sudah saatnya untuk unjuk gigi memberikan fakta terhadap toleransi keberagaman yang tumbuh dan berkembang di dalamnya. Bukan sekedar wacana yang diumbar pada khalayak dunia. Fenomena antara Palestina dan Israel, Aleppo, Suriah, dan negara-negara yang sedang mengalami konflik lainnya seharusnya telah memberikan gambaran jelas dan keras, bahwa membina perdamaian bukanlah hal mudah. Berharganya nilai nyawa setiap detik turut dipertaruhkan dengan harap cemas akan nasib nyawa di detik selanjutnya. Mencegah, menjaga, dan mengobati setiap kemungkinan konflik yang terjadi menjadi kewajiban bersama masyarakat Indonesia untuk mencapai kedamaian yang diidam-idamkan. Membuang segala keegoisan dan membalutnya dengan keikhlasan, kasih sayang dan cinta. Membuang prasangka-prasangka buruk dan benci dan menggantinya dengan prasangka baik dan suka. Percayalah akan segala kehendak Tuhan, dengan tetap menebar kebaikan kepada siapapun tanpa pandang bulu. Harapan bumi Nusantara yang berpayung kedamaian dan cinta kasih pun akan terwujud.

 penulis : Widya Resti Oktaviana