Minggu, 31 Januari 2016

Antisipasi Gafatar Dengan Berfikir Kritis


Kelompok Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) yang disebut-sebut sebagai aliran sesat kini menjadi perhatian dan perbincangan publik yang menghebohkan di berbagai media sosial maupun pemberitaan media massa. Hal ini bukan hanya terkait dengan menghilangnya sejumlah orang, tetapi juga ajaran dan praksisnya.

Jawapos.com (11/01/2015) dalam website Gafatar Lampung disebutkan, Gafatar berdiri di Jakarta pada 14 Agustus 2011 atas prakarsa 51 orang badan pendiri. Deklarasi di level pusat dilakukan pada 21 Januari 2012 dengan 51 deklarator diikuti oleh 14 DPD (14 Provinsi). Bahkan Gafatar telah berkembang dengan memiliki 34 DPD yang tersebar diseluruh Insdonesia.

Dari berbagai sumber, baik dari Gafatar sendiri maupun yang lain, Gafatar merupakan penjelmaan dari “Al Qiyadah Al Islamiyah” yang di pimpin oleh Ahmad Mussadeq yang dianggap sesat dalam fatwa MUI pusat (4 Oktober 2007). Sebelum menjadi Gafatar, Al Qiyadah Al Islamiyah berganti nama menjadi Komar (Komunitas Millah Abraham) dan pada bulan januari dideklarasikan menjadi Gafatar. Pada tahun 2008, pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan hukuman empat tahun penjara atas Mussadeq karena terbukti melakukan penodaan agama.

Gafatar menyatakan berasas pancasila, dan mendeklarasikan dirinya sebagai kelompok Negara Kesatuan Semesta Alam (NKSA). Gafatar mengajarkan kepada para anggotanya untuk merayakan Sabbath, yaitu hari ibadah umat yahudi dan kristiani. Gafatar hanya memegang rukun islam tentang kewajiban zakat, hal ini terkait dengan penggalangan dana untuk kegiatan sosial yang mereka lakukan, dan mereka menolak rukun islam yang lain seperti hanya mengimani Allah dan menolak beriman kepada Nabi Muhammad, shalat lima waktu, puasa ramadhan dan berhaji bagi yang mampu.

Sejak aktif hingga dilarang Gafatar bergerak secara soft, tidak mencolok, tidak massal dan tidak ada laporan dari warga yang protes. Meski sudah dibubarkan, Gafatar masih bergerak aktif. Hal ini terlihat dari kasus hilangnya  dokter Rica dan anaknya yang ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dalam hal ini tentu perintah harus bersikap tegas dalam mengambil keputusan terhadap Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Agar tidak ada lagi korban hilang yang terjadi seperti yang diberitakan dimedia massa.

Sebagai warga negara Indonesia yang mayoritas beragama islam, agar lebih waspada dan lebih jeli terhadap aksi dan kegiatan yang dilakukan oleh Gafatar. Yang harus kita lakukan saat ini adalah berfikir kritis dalam menyikapi setiap persoalan, terutama dalam hal melihat fakta, jangan hanya mengandalkan asumsi-asumsi saja. Dengan banyaknya gerakan yang ekstrim, masyarakat harus berfikir disertai dengan analisis sebelum mengambil suatu keputusan.

Dengan berfikir kritis, kita akan terhindar dari ajakan gerakan ekstrim dan radikal yang tidak jelas ajarannya. Jika kita tidak mau berfikir kritis tidak menutup kemungkinan kita akan terjerumus pada sebuah gerakan yang radikal yang akan membawa kita pada jalur yang sesat. Tidak mau berfikir merupakan salah satu faktor yang membuat orang menyimpang dari jalan yang baik. Didalam agama Islam telah diajarkan agar manusia mau berfikir dengan akal yang telah diberikan oleh Allah Swt. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Tidak menutup kemungkinan didalam agama lain juga diajarkan hal yang demikian. (crew)


Rusdiyanto (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Liburan Versi Mahasiswa Rantauan yang Tak Pulang

Liburan Ala Osi Iradati Marsha

Halo mahasiswa! Selamat liburan untuk yang sudah selesai ujian akhirnya. Semangat kuliah untuk yang belum liburan. Bicara soal liburan, kegiatan apa sih yang biasa dikerjakan oleh para mahasiswa selama libur? Pulang ke kampung halaman bagi mahasiswa rantauan? Sudah pasti. Jalan-jalan? Entah itu keliling kota, menelusuri tiap sudut yang belum tersentuh atau sekadar mampir ke mall megah untuk gaya-gayaan a la para borjuis? Bisa jadi, dan mungkin jalan-jalan memang tujuan utama para mahasiswa saat liburan. Maklum, hari-hari perkuliahan yang padat dan sibuk membuat mahasiswa butuh waktu sejenak untuk menyegarkan kembali pikiran juga tubuhnya. Mahasiswa juga manusia. Hahaha.
    Lalu, bagaimana kabar para mahasiswa rantauan yang tidak pulang dan memilih setia di tanah rantau? Tidak perlu sedih duhai teman-teman senasib-sepenanggungan. You are not alone, kata Michael Jackson. Kamu mungkin tidak bisa menikmati hangatnya berkumpul bersama keluarga. Tapi, kamu masih bisa mengisi liburanmu dengan kegiatan yang seru juga bermanfaat. Ada banyak hal yang bisa kamu kerjakan agar liburanmu tak berlalu percuma. Cuci pakaian atau beres-beres kamar contohnya. Tak usah berkelit, sehelai-dua helai atau mungkin setumpuk pakaian kotor pasti ada di kamarmu. Cucilah selagi masih libur dan harimu belum kembali disibukkan dengan seabrek tugas kampus. Kalau cucianmu sudah beres, kamarmu sudah rapi, maka pergilah. Liburan bukan saat untuk bermalas-malasan dengan diam di kos dan tidur-tiduran. Nikmati tanah rantaumu, datangi tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya.
    Baiklah, izinkan saya -mahasiswa rantauan asal Sumatera yang kini kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta- bercerita. Awal liburan, kos tempat saya tinggal masih cukup ramai. Tapi, hari berganti hari, satu per satu teman kos saya pulang. Alhasil, kos menjadi sepi seperti pasar yang toko-tokonya sudah tutup. Bingung, saya bingung mau kemana. Tidak ada teman yang bisa diajak pergi jalan-jalan. Semua sudah pulang. Hingga kemudian saya ingat bahwa di Jogja ada perpustakaan baru yang belum lama ini diresmikan. Kamis, 21 Januari lalu saya putuskan untuk kesana.
    Ada peristiwa yang entah lucu, miris, atau memalukan waktu saya dalam perjalanan menuju perpustakaan. Sebenarnya, saya punya sepeda yang bisa digunakan kesana. Tapi, saya bukanlah penghapal jalan yang baik. Setahun lebih kuliah di Jogja tak membuat saya lepas dari ancaman tersasar. Tepat di hari itu juga, ban belakang sepeda saya bocor. Maka Trans Jogja adalah jawaban yang tepat bagi permasalahan ini. Saya berangkat naik Trans Jogja dari halte UIN.
    “Dari sini, mbak naik 4B, nanti turun di Kridosono ganti 2B, terus transit di SGM naik 1A,” begitu arahan bapak penjaga halte saat saya berkata mau ke Jogja Expo Center (JEC). Berdasarkan informasi yang saya dengar dari teman, perpustakaan baru itu lokasinya persis di sebelah JEC.
Tidak perlu lama menunggu, bus jalur 4B datang dan berangkatlah saya. Satu per satu halte sudah dilewati. Halte gedung Wanitatama, halte Empire XXI, halte R.S. Bethesda, sampai halte SMPN 5. Saya mulai bingung, saya belum mendengar bapak operator bus itu menyebut-nyebut Kridosono. Saya tetap tenang dengan berpikir halte selanjutnya adalah tempat dimana saya harus berhenti. Meter demi meter, bus mulai menjauh dari SMPN 5. Sedikit lagi sampai di halte berikutnya, saya kaget sejenak lalu menertawakan diri sendiri dalam hati. “Ini kan De Britto,” batin saya malu. Ya, saya kembali lagi ke UIN, tepatnya di halte SMA Kolese De Britto.
Saya memang tak tahu dimana Kridosono tepatnya, mungkin halte SMPN 5 itu yang dimaksud. Entahlah, ini karena saya yang kurang piknik atau karena saya tak memegang prinsip malu bertanya sesat di jalan, dan akhirnya saya memang betul-betul tersesat. Berjalan di jalur yang salah, lebih tepatnya. Hahaha. Akhirnya, saya putuskan turun di halte De Britto untuk kemudian menyeberang jalan menuju halte gedung Wanitatama. Semangat saya untuk ke perpustakaan tidak menyurutkan langkah walau saya harus membayar lagi untuk naik Trans Jogja kali kedua.
Tidak seperti bapak sebelumnya, ibu penjaga halte ini hanya mengarahkan saya untuk naik bus jalur 1A agar sampai ke JEC. Perjalanannya memang cukup panjang, ditambah keadaan di dalam bus yang cukup sesak. Maklum, bus jalur 1A itu sepertinya memang jadi favorit karena salah satu tempat pemberhentiannya adalah Malioboro. Singkat cerita, sampai juga saya di JEC. Bukan hanya kali pertama ke perpustakaan baru itu, ini juga kali pertama saya ke JEC. Duh, mahasiswa Jogja macam apa saya ini. Setiba di JEC, saya masih bingung harus jalan ke arah mana untuk sampai di perpustakaan. Sampai akhirnya saya melihat ada bagian dari gedung perpustakaan itu menjulang tinggi, sama seperti yang saya lihat di laman salah seorang teman facebook yang sudah lebih dulu mengunjungi perpustakaan. Saya berjalan cepat karena rintik hujan saat itu mulai turun, lalu menyeberang tepat ke gedung yang ternyata tampak sangat megah dari depan. Ya, gedung perpustakaan itu, Grhatama Pustaka namanya.
Tampak luarnya saja sudah cukup membuat saya takjub. Memasuki bagian dalam gedung, saya mulai sadar bahwa perpustakaan ini memang betul-betul luas. Di ruang tunggu, saya melihat orang-orang memadati kursi yang disediakan, seperti sedang menunggu antrean, atau mungkin menunggu hujan reda untuk kemudian kembali ke peraduan masing-masing. Saya juga melihat orang-orang yang keluar masuk perpus, dan anak-anak kecil yang berlari hilir-mudik.
Lagi, saya kebingungan. Saya bingung harus apa terlebih dulu. Daftar jadi anggotakah atau bagaimana. Saya duduk sebentar, mengamati gerak-gerik para pengunjung. Saat dirasa mulai paham, saya kemudian berdiri, lalu berjalan menuju tempat penitipan barang. Saya keluarkan KTP untuk ditukarkan dengan kunci loker. Setelah menaruh tas di loker, saya melanjutkan perjalanan menuju ruang baca utama. Dari luar ruang baca dengan kaca bening sebagai pembatas itu, saya melihat para pengunjung duduk dengan santainya sambil membaca buku masing-masing. Ada juga satu-dua orang yang asyik memainkan gawainya, atau bercerita dengan temannya.
Saya masuk, mengamati lebih dekat apa saja yang ada dalam ruang baca ini. Kenyamanan yang saya lihat dari luar tadi benar-benar saya rasakan ketika sudah masuk ke dalam. Perpustakaan ini menyediakan banyak sofa baca untuk para pengunjung, juga meja panjang bagi yang membawa laptop. Lantainya berlapis ambal yang tebal juga lembut, sehingga pengunjung diharuskan membuka alas kakinya di luar. Tapi tenang saja, ada kantong serut untuk tempat alas kaki yang boleh dibawa masuk ke ruang baca. Di ruangan berpendingin itu juga diperdengarkan lagu-lagu dengan volume suara yang tidak terlalu tinggi, khas perpustakaan sekali. Suasananya sangat nyaman, cocok untuk membaca.
Saya datang bukan tanpa tujuan, bukan pula hanya untuk jalan-jalan. Ada beberapa buku yang memang saya niatkan untuk dicari di perpustakaan ini. Berjalanlah saya ke komputer yang disediakan untuk layanan pencarian buku. Ternyata, buku-buku yang saya cari tidak ada. Mungkin hanya belum tersedia, karena perpustakaan ini juga masih baru, masih dalam proses melengkapi koleksi buku sepertinya. Akhirnya saya berkeliling, berpindah dari rak satu ke rak berikutnya. Mencari buku yang menarik untuk dibaca. Singkat cerita, di tangan sudah ada tiga judul buku yang saya pegang. Saya juga sudah menemukan “posisi wuenak” yang pas untuk membaca. Halaman demi halaman saya baca. Detik berganti menit. Menit pun berganti jam. Tak terasa hari sudah sore, bahkan hampir petang. Hujan juga sudah reda. Buku yang saya ambil memang belum selesai semuanya, tapi sudah waktunya saya pulang. Keluar dari ruang baca, saya berjalan menuju ruang tunggu. Bagian informasi yang tadi siang dipadati pengunjung kini mulai sepi. Sebelum benar-benar pulang, saya putuskan untuk mendaftarkan diri jadi anggota. Syaratnya hanya KTP atau KTM, dan pendaftaran ini gratis. Setelah mengisi biodata, ada sesi foto untuk kelengkapan kartu anggota. Dengan menunggu selama tiga jam, kartu anggota sudah bisa diambil. Tapi, berhubung hari semakin mendekati petang, saya tidak menunggu pembuatan kartu anggota itu hingga selesai. Saya akhirnya pulang dan cerita selesai.
Jadi, kamu masih mengeluh jadi mahasiswa rantauan yang tak pulang? Ayolah, jadikan liburanmu liburan yang berkualitas. Selain ke perpustakaan, masih banyak destinasi lain yang menarik untuk kamu datangi. Juga masih banyak kegiatan seru dan positif yang bisa kamu lakukan di waktu libur ini, kan? Oke, selamat melanjutkan liburan teman-teman mahasiswa! (crew).

puisi soal naskah ujian fatiha


Soal Naskah Ujian
(Memoar Pasca UAS)

Soal Naskah ujian
Masalah yang gampang
Perlawanan tanpa senjata perang
Hanya butuh  satu tinta
Meneteskan  kebohongan tanpa kesungguhan

Soal Naskah ujian
Bagaimana kecerdikan berperan
Merenggut nilai dengan kualitas tertinggi
Menuju gerbang kemenangan, walau hanya semu tak berarti

Soal naskah Ujian
Pertemuan yang tidak diharapkan
Tubuh diam bersama meja dan pena
Nafas bergemuruh berpacu dengan waktu
Suara manusia  tiba-tiba terbuang jauh
Wajah penuh tawa, berganti layar merah tanpa gairah

Soal Naskah Ujian
Energi tertinggi tercipta
Melawan kata yang sulit dicerna
Setiap titik menjadi ruang harapan
membebaskan diri dari situasi mencekam

Soal Naaskah Ujian
Sepasang mata berjalan waspada
Meneguk konspirasi penghalang kejujuran
Tak ada kerjasama yang tercipta
Hanya diri mandiri yang berdiri
Berjalan diatas kertas putih
Seperti komedian yang terpojok situasi
Hingga ahirnya terseret keluar
Dengan posisi memalukan

Lembar soalpun menggila
Menekan rasio menjadi adonan ricuh
Memaksa tangan tuk tetap bergerak
Mencapai babak final pembebasan
Dengan kegilaan yang menakutkan

#minal_fatihah (crew)
Kontak Facebook: zakiya ar-rahma

Rabu, 27 Januari 2016

Alam Diciptakan Untuk Siapa?

Akhir-akhir ini sangat banyak kejadian yang membawa kita untuk mengingat alam, sehingga pertanyaan yang kerap muncul adalah “alam diciptakan untuk siapa?”, maka jawabannya adalah “entahlah” jika yang hidup di alam ini saja malah dengan tanpa dosa merusak setiap bagiannya.

Pada hakikatnya, agama manapun pasti mengajak umatnya untuk menjaga dan melestarikan alam yang ada disekitarnya. Maka islam menegaskannya melalui firman Allah seperti yang terkandung dalam surat Al-A’raf ayat 56-57 berikut :
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan)  dengan baik.  Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.  Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan). Sehingga apabila angina itu membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati. Mudah-mudahan kami mengambil pelajaran”
         
Ayat tersebut bermaksud menjelaskan kepada manusia untuk tidak merusak apa yang diciptakan tuhannya, sebab setiap apa yang menjadi fitrah di bumi (angin, hujan, dll) adalah anugrah dari-Nya yang bisa menghidupkan kembali bagian bumi yang tandus.
       
Tapi terkadang manusia tidak menyadari setiap apa yang dianugerahkan tuhannya sebab belum mampu mengambil pelajaran dari apa yang Allah perlihatkan. Allah berikan hujan yang lebat, terik matahari, hutan yang luas dengan pohon-pohonnya yang rindang bahkan menghasilkan buah-buahan, udara yang menyejukkan, laut yang indah, dan masih banyak lagi. Fabi ayyi aalaa I rabbikumaa tukadzibaan, maka nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?.

Maka jelas, alam diciptakan untuk manusia yang menjadi penghuni di muka bumi ini, namun tak ayal, hujan dihujat, panas dikeluhkan, hutan ditebang secara illegal bahkan dibakar, udara dicemari, laut dikotori, lantas mana bukti rasa syukur manusia terhadap tuhannya?. Jika Allah menciptakan alam untuk manusia namun manusia tidak menjaganya, maka tidak ada salahnya jika Allah murka.

Salah satu bagian kecil dari permasalahan saat ini, yang kerap menjadi tanda tanya, terkait terbakarnya hutan-hutan di Indonesia tepatnya di pulau Sumatra dan Kalimantan. Tangan jahat siapa yang tanpa segan melukai bagian dari alam ini? Manusia mana yang dengan teganya merusak alamnya bahkan membuat duka bagi saudara-saudaranya?.
       
Usaha-usaha pemerintahpun terkadang gagal untuk memadamkan sekian ratus titik api yang tersebar di hutan-hutan Indonesia. Tak ada solusi yang diberikan pelaku pembakaran terhadap bencana yang dibuatnya, bahkan “bersembunyi” dan tak berani menampakkan batang hidungya.

Walaupun pada intinya kita tak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, setidaknya kesadaran tersebut dimulai dari diri kita sendiri. Tugas kita untuk memahami dan mengambil pelajaran dari setiap apa yang diperlihatkan Allah melalui alam untuk manusia.  Oleh sebab itu, marilah kita jaga setiap sisi alam kita. Jika menanam satu pohon saja sudah menjadi amalan jariyah untuk kita, bagaimana dengan tindakan yang lain? MasyaaAllah.

Jagalah alammu, maka alam akan menjagamu. (crew)

Penulis: Alfy Inayati


Sisi Lain Padepokan Bumi Langit

Padepokan bumi langit yang bertempat di Jalan Imogiri-Mangunan Km. 3, Desa Giriloyo, Wukisari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta  ini dibangun dengan latar belakang yang unik. Padepokan yang bernuansa pedesaan ini dibangun oleh seorang pria berkebangsaan Inggris yang beranama Iskandar Waworuntu pada tahun 2000.

Asal mula pedepokan ini adalah
didasari oleh perjalanan spiritual bertahap hingga mengantarkan pada kebenaran yang sebenarnya. Pria yang kerap disapa Pak Iskandar ini, mengaku telah tergugah hatinya untuk memeluk agama islam setelah melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Beranjak pemikiran dan pemahamannya tentang islam mengatarkannya untuk membangun padepokan bumi langit sebagai bentuk aktualisasi dirinya dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin modern.

Beliau mengaku turut prihatin dengan perkembangan zaman modern yang seolah-olah mendewa-dewakan teknologi industri, segalanya serba instan tanpa mempertimbangkan kesesuaian mana yang khaq dan bathil.
“Jadi kita pun tidak tahu dari mana barang tersebut berasal dan atas niat yang tidak kita ketahui.” Ungkapnya ketika ditemui di padepokan bumi langit belum lama ini.

Padepokan bumi langit ini merupakan padepokan yang mengembangkan pertanian terpadu dengan sistem permacultur. Permacultur disini berarti bahwa kesadaran dan pemeliharaan terhadap sebuah ekosistem pertanian yang didalamnya terdapat keberagaman, daya tahan, dan stabilitas. Secara philosophy diibaratkan seperti kerjasama antara manusia dengan alam, dan bukan menentang alam.

Sisi lain yang tersembunyi di balik bumi langit ini, Pak Iskandar memiliki pedoman mantap akan Islam Rahmatan Lil Alamin. Dimana pedoman islam ini berwujud pada menjaga dan memelihara terhadap anugerah alam yang diberikan oleh Allah SWT.

Dalam pembagian ruangan padepokan ini memiliki makna tersendiri, yakni antara ruang tamu (bumi langit luar), ruang keluarga dan pribadi (bumi langit dalam) diartikan sebagai proses bertahap mensucikan diri secara lahir dan batin. Ruang tamu ini memungkinkan kita untuk saling berhubungan dengan dunia luar untuk bertabayyun, syiar serta memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi oleh diri sendiri. Di ruang keluarga sudah mulai menerapkan konsep memasak yang dibatasi hanya direbus, dipanaskan oleh api, asap, sekam, atau uap air, agar mengurangi ketergantungan dengan dunia modern. Selanjutknya di ruang keluarga sudah tidak lagi menerapkan konsep memasak, semuanya berasal dari alam secara langsung.

Semua konsep ruangan yang tergambarkan tersebut hanyalah untuk berusaha  memenuhi kebutuhan sendiri (menerapkan permakultur) agar menegakkan tulang sulbi, yaitu makan jika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Jika dalam pengkonsumsiannya terdapat surplus hanyalah rezeki orang lain yang dititipkan Allah melalui kita.

Harapannya dengan penerapan yang berbasis alam ini akan dapat menyeimbangan alam semesta sebagaimana bentuk aplikasi dari Rahmatan Lil Alaminta. Bukan semata-mata tidak menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memcoba memanfaatkannya ke arah pemeliharaan yang baik. (crew)

Penulis: Ulfa Anjarwati

Kontak
Instagram: @ulfa_anjarwati
Twitter: @ulfaanjarwati
Facebook: ulfaa anjarwati

BLH; "Mari Menjaga Alam"

Badan Lingkungan Hidup DIY merupakan salah satu lembaga perlindungan sekaligus pelestarian alam yang berposisi sebagai pembuat rancangan undang-undang atau kebijakan terkait pelestarian lingkungan. Selaku Badan yang mengatur serta membuat rancangan, Teno Sulityanto memaparkan bahwa setiap kabupaten memiliki wewenangnya sendiri dalam mengembangkan kebijakan untuk pelestarian lingkungan.

Berkenaan dengan pelestarian lingkungan, BLH DIY membagi lingkungan dalam 3 aspek yaitu, air, tanah dan udara.

Selaku badan perumusan kebijakan, hal yang dilakukan oleh lembaga ini seputar pengamatan, pemantauan, sehingga ditemukan pemecahan.

Untuk aspek udara,  Teno Sulityanto menyampaikan bahwa hal yang mereka lakukan berupa pemantauan kualitas udara. Biasanya mereka melakukan pemantauan udara ambiyen (udara luar). Ini diambil menggunakan alat dan diukur zat-zat yang terkandung didalamnya. Yang termasuk udara ambiyen adalah gas NO, So, partikulat (asap). Setelah pemantauan dibuat laporan sebagai bahan acuan untuk penetapan kebijakan sekaligus pemecahan.

Menurutnya saat ini kondisi udara di DIY masih tergolong baik tidak seperti di Jakarta atau beberapa kota besar lainnya. Terhadap zat partikulat, mereka melakukan Uji emisi pada kendaraan-kendaraan di wilayah DIY.

Ada sekitar 2000 kendaraan yang telah melakukan uji emisi. Uji emisi ini  bersifat company, yang berada di setiap wilayah DIY. Untuk melakukan uji emisi ini , Badan Lingkungan Hidup Yogyakarta melakukan trik pencegatan kendaraan, salah satunya berada di dekat gedung TVRI.

Untuk kendaraan yang tidak memenuhi standar, BLH memberikan stiker sebagai bentuk teguran agar lebih menjaga lingkungan, kendaraan dan kehidupan.

Yang kedua, Air. Air terbagi menjadi 3 jenis, air Sungai  air sumur dan air laut. Kegiatannya juga sama, melakukan pemantauan, serta pendataan. Untuk air laut, mereka menguji apakah sesuai dengan baku mutu atau tidak. Air sumur tidak seluruhnya, hanya pada sumur-sumur yang  letaknya berdekatan dengan produksi limbah berlebih, seperti di dekat gedung-gedung tinggi, mal, hotel dll.

Setelah mendapatkan hasil dan membuat laporan, hal ini yang menjadi langkah awal untuk pelestarian alam kedepannya. Untuk bangunan-bangunan tinggi itu sendiri, setiap mereka harus melaporkan bagaimana mereka mengolah limbah tiap 3 bulan sekali. Dan  badan lingkungan hidup   harus memastikan atau mengecek kegiatan setiap satu bulan sekali.

Untuk jenis air sungai, pengambilan sampel air difokuskan pada pertumbuhan bakteri ecoli, misalnya di wilayah kali code didapati bahwa jumlah bakteri ecoli  tumbuh melebihi batas standar air.

Setelah mendapatkan hasil, mereka akan melakukan sosialisasi di wilayah tersebut, mulai dari himbauan untuk membersihkan sampah, menjaga kesehatan, membantu fisik sungai gar tidak terlalu dangkal atau terlalu dalem juga. Yang terakhir berupa melakukan sosialisasi untuk penyadaran lingkungan di masyarakat sekitar sungai, agar tidak meminum air mentah langsung dari sungai, tidak membuang limbah ke sungai.

Untuk kegiatan berkenaan dengan himbauan ini tidak hanya sekedar himbauan. Tapi mereka juga sudah membuat IPAL untuk menanggulangi permasalahan kebersihan air. Dan disarankan, apabila benar-benar dibutuhkan untuk waktu dekat melakukan pembangunana septic tank. Agar tidak terjadi pencemaran air yang lebih mengerikan lagi kedepannya.

Untuk aspek tanah, Teno Sulistyanto mengaku bahwa masih banyak pekerjaan seputar tanah yang belum bisa terselesaikan hal ini disebabkan munculnya perselisihan dengan pihak pertanian.

Namun arahan untuk tugas seputar tanah itu sendiri telah diturunkan pihak kementrian berupa tindak pendataan terhadap tanah khususnya yang banyak mengandung limbah P3 Seperti oli,bensin sisa2 baru bara, pembakaran batu bara. Bahan-bahan kimia. Saat ini mereka masih melakukan pemantauan daerah mana yang banyak terdapat limbah. Setelah itu yang mereka bisa lakukan hanya dalam bentuk himbauan dan konservasi yang sifatnya kampanye. Seperti membuat lomba, perintis lingkungan, terrific awward. Untuk yang konservasi mereka mendanai, menggarap, membngun. Kalo di tahun 2015 mereka membangun telaga, di daerah perkotaan.

Untuk pengendalian kerusakan melakukan penanaman di lahan kritis. Konservasi itu membangun sebuah lokasi yang digunkan khusus untuk keaneka ragaman hayati, untuk menghindari kepunahan tanaman-tanaman tertentu. Yang disebut taman kayati.

Pengembangan kelembagaan lingkungan hidup. Memfasilitasi, membina, beberapa organinsasi seperti bank sampah agar tetap eksis dalam menjga lingkungan. Setiap perusahaan di jogja wajib memiliki dokumen lingkungan. Dimana dalam dokumen tersebut wajib melaporkan bagaimana mereka mengolah limbahnya terhadap lingkungan.

Pendapat narasumber terkait kebakaran di merapi dan kabut asap yang berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kebakaran Hutan
Kebakaran di merapi, sepertinya terjadi karena faktor alam. api dari atas, akibat sambaran petir atau akibat adanya gesekan benda-benda tertentu di permukaan. Karena kondisi Indonesia yang berada di musim kemarau, gesekan dua benda memicu munculnya api dan
Apakah tidak ada perencanaan untuk wilayah yang belum mengalami bencana? Di lapangan ada yang mencari data, menganalisis kejadian-kejadian lapangan.  Ketika ada pengalaman mengenai suatu bencana di daerah yang berbeda, pasti telah disiapkan rancangan tugas serta program-program kerja untuk mengantisipasi terjadi bencana yang sama.

Untuk program tersebut, apabila telah dibentuk maka tanggung jawab dan bagian-bagiannya pun telah di rampungkan dan setiap penanganan masalah didasarkan pada SOP yang diberikan.
“Setiap daerah itu sudah ada tugasnya. Kebakaran hutan adalah ,  naungan dinas kehutanan bukan BLH. Penanganannya bukan untuk kebakaran tapi bencana alam secara global. Pastinya hal-hal terkait perencanaan tersebut telah disiapkan.” Jelas bapak Teno Sulityanto.

Kabut Asap
Pembakaran hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan dengan alasan untuk membuka lahan sebagai salah satu sumber pencaharian penduduk setempat, itu diperbolehkan. Karena pembakaran lahan di tengah musim kemarau merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan pencaharian penduduk.

Selain itu  Teno Sulityanto juga menjelaskan bahwa pembakaran lahan itu diperbolehkan berdasarkan peraturan daerah setempat. Hanya saja, kebetulan pembakaran dilakukan secara masal, ditengah kondisi alam yang tidak juga stabil.
“kita tidak bisa menyalahkan langkah dan tindakan yang mereka lakukan untuk membuka lahan baru, apabila kita tidak bisa memberikan solusi dan jalan keluar  kepada mereka” papar Teno.
Disamping itu, faktor kondisi alam juga memicu permasalahan kabut asap yang berlangsung lebih lama daripada tahun lalu.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pihak yang berwenang dan bertanggung jawab penuh dalam mengatasi sekaligus mengantisipasi permasalahan kedepannya telah melakukan perencanaan dan pemecahan. (crew)

Penulis: Windi Meilita
Kontak Facebook: Windi Meilita

Selasa, 26 Januari 2016

Sosial Media dan Dampaknya


Abad ini sosial media seperti facebook, bbm, path,dan twitter telah menjadi kebutuhan sebagian besar  masyarakat Indonesia. Tiada hari terlewatkan tanpa mengecek jejaring sosial. Fenomena sebelum makan memotret menu terlebih dahulu, kemudian meng-upload kemedia sosial sudah menjadi kebiasaan pemuda negeri ini. Hal tersebut dilakukan agar dibilang “kekinian”.
            Fenomena generasi menunduk pun sudah menjadi pemandangan umum. Dimana ketika berjalan sering kali kita lihat orang memainkan smartphone mereka. Tak dapat kita pungkiri bahwa sosial media menjadi hiburan tersendiri bagi kita yang memiliki aktifitas padat. Disela-sela kepenatan kita bisa mengobrol dengan teman yang terpisah ribuan kilometer jauhnya.
            Namun, yang menjadi permasalahannya adalah ketika kita terlalu asyik dengan dunia maya, bagaimana kehidupan kita di dunia nyata? Kebanyakan dari kita cenderung menjadi introvet. Mereka yang biasa berkoar-koar saat chating di dunia maya, menjadi cenderung pendiam di kehidupan sosialnya.
            Tak ada salahnya menyebut sosial media mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kita terlalu sibuk membangun dunia maya namun sering kali mengabaikan dunia nyata.  Intensitas mengobrol dengan keluarga berkurang, saat berkumpul dengan teman sibuk mengecek jejaring sosial. hal ini tidak bisa kita biarkan terus menerus karena akan merusak hubungan yang telah lama terjalin di dunia yang sesungguhnya.
            Kita perlu waspada karena sosial media  bisa membuat kecanduan. Hal tersebut tentu saja berpengaruh buruk terhadap psikis apabila kita tidak bisa mengontrolnya. kadang media sosial kita jadikan diary untuk mencurahkan segala hal, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan. Kita tidak memiliki ruang pribadi lagi karena segala yang kita rasakan selalu dibagi di sosial media.
            Menurut penelitian para ahli, gangguan psikis yang diakibatkan dari sosial media diantaranya :
1.      Social Anxiety Disorder
Apabila  sering merasa bahwa handphone kita berbunyi karena ada notifikasi dari media sosial, mungkin anda telah terjangkit sindrom ini. adanya rasa cemas untuk ditinggalkan follower dan komentar yang jelek dari teman sosial media juga merupakan tanda anda mengidap sindrom sosial media ini.
2.      Obsessive Compulsive  Disorder (OCD)
Gangguan psikis jenis ini bertanda-tanda saat anda tidak bisa meninggalkan ponsel barang sedetikpun. Hal ini tentu akan mengganggu aktivitas keseharian.
3.      Fear of Missing Out
Orang yang menderita sindrom ini akan terus meng-update kehidupan orang lain di sosial media. Hal tersebut ia lakukan secara terus menerus karena ia beranggapan bahwa hidup orang lain lebih indah dan sayang untuk dilewatkan. Hal ini akan berdampak negatif pada kehidupan sosialnya di dunia nyata, karena ia akan cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Jika kita amati, dampak negatif yang ditimbulkan dari sosial media sangatlah beragam. Oleh karena itu kita harus bijak dalam memanfaatkan akun sosial media kita agar tidak merugikan. Bersosial media tidak ada salahnya asal tidak mengaganggu kehidupan kita di dunia nyata. (crew)

oleh : Isti Khomalia
pengamat IT


Kontak
Instagram: @hey_amazingisty
Facebook: Isty Flo

Karena Perempuan Ingin Di Mengerti

 ilustrasi (mutiarabijak.com)

“Memanusiakan Manusia ”
Ya, ungkapan di atas seolah menjadi peribahasa sosial sebagai usaha untuk saling menghargai antara manusia satu dengan yang lainnya. Apalagi jika kita berbicara tentang sosok perempuan. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) penggunaan kata wanita sudah mewakili sebutan bagi kaum hawa. Bisa dibilang kata wanita sudah memenuhi standar etika dalam sebuah panggilan. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan jaman, penggunaan sapaan wanita cenderung bernilai rendah atau terkesan negatif. Maka sebutan perempuanlah yang relevan dalam KBBI sekarang ini.
Seorang perempuan yang familiar dengan perasaan sensitifnya ini, menginginkan perhatian dari orang sekitar. Baik itu dari orang tua, teman atau suaminya kelak. Bukan berarti perempuan itu sosok orang yang manja, yang selalu ingin diperhatikan orang lain. Jika kita sedikit mengulas sebelum masa perjuangan R.A. Kartini, perempuan seolah tidak ada harganya di mata halayak. Bak seekor burung yang terdiam dalam sangkarnya. Tetapi setelah adanya perjuangan beliau, peran perempuan mulai terlihat dari bilik-bilik nan menyuramkan.
Secara normatif perempuan dan laki-laki diciptakan dalam porsinya masing-masing. Titah seorang pemimpin yang melekat pada laki-laki tidak bisa ditorer dengan alasan apapun. Tetapi bukan berarti perempuan tidak memiliki kesempatan untuk berkarya. Istilah perempuan dijadikan dari tulang rusuk laki-laki beresensi bahwasannya antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang dilahirkan lebih dulu. Jadi laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk saling diakui keberadaannya.
Perempuan belum dikatakan sukses jika tidak bisa membimbing putra putrinya kelak. Memang benar adanya tugas tersebut adalah tanggung jawab kedua orang tua, tetapi bahasa ibulah yang pertama kali melekat dibanding bapak. Coba kita tanya pada anak-anak sekarang ini, tipe gedget apa yang paling menarik. Sampai-sampai penulis kalah karena ke-gaptek-kannya.
Faktor lingkungan yang semakin ekstrim harus diminimalisir dengan tingkat perhatian orang tua kepada si anak. Mata pelajaran agama yang mereka temui satu minggu sekali di sekolah tidak mencukupi tingkat religiusitas. Yang paling miris jika orang tua mempercayakan anak kepada baby sister. Karena kesibukannya dalam bekerja, sedikit sekali waktu yang digunakan untuk bersama sang buah hati. Apa yang menjadi sifat dan sikap dari pengasuhnya akan diikuti oleh anak. Karena pada masa golden age, anak paling mudah dalam proses meniru. Apalagi terhadap orang terdekatnya, mudah sekali pengaruh itu berkembang. Berperan sebagai aktifis atau bahkan sampai menjadi wakil rakyat, tentu porsi kegiatan di lapangan semakin padat. Kesegaran politik harus dia ciptakan demi mewakili masyarakat yang pro dengannya.
Ketenaran sosok perempuan di mata publik tidak akan berarti apa-apa selama tanggung jawab utamanya belum dipenuhi. Tak ada satupun yang bisa melarang perempuan untuk berkarya. Selama tidak melanggar syari’at yang sudah ditentukan. Karena “live is choice !”. (crew)

Na’imatus Sa’diyah

Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengakali Pestisida

Kudus-Jelang akhir Januari, para petani padi di Desa Jekulo Kabupaten Kudus harap-harap cemas. Pasalnya, kondisi cuaca yang tak menentu mengakibatkan kondisi padi mereka tak menentu pula.

Seperti yang dikatakan Imam, petani padi di kawasan Hadipolo menuturkan bahwa cuaca kali ini sulit ditebak. Hujan tidak selancar tahun sebelumnya. Cuaca panas tergolong mendominasi.
"Hujan malah sering terjadi di malam hari, dan itu berakibat buruk bagi tanaman. Mudah terserang hama misalnya," ujar Imam.

Untuk mengatasi hal tersebut, petani biasanya membeli pestisida yang telah dipasarkan. "Akan tetapi biasanya hasil tak sebagus yang diharapkan," imbuh Imam.
Harga pestisida yang relatif mahal dengan hasil panen kurang sepadan membuat Maskar Hadi, seorang petani asal Jati menciptakan inovasi pengganti pestisida. Berbekal ilmu yang ia peroleh saat kuliah di Jurusan Kimia, Maskar  mengkombinasikan peran air kelapa, tetes tebu, MSG (monosodium glutamat), dan susu cair untuk mengakali pestisida.
"Percobaan ini sudah kali kedua setelah sebelumnya berhasil. Saya harap kali ini pun sama," tegas Maskar.

Perbandingan biaya yang digunakan jauh di bawah harga pestisida di pasaran. "Kalau dihitung-hitung, bisa hemat 75% dibanding harga yang harus dibayar untuk sepaket pestisida," terang Maskar.
Bahan-bahan yang digunakan, diantaranya: air kelapa 5 liter, tetes tebu 5 kg, MSG (obat masak/mecin) 1/2kg, dan susu cair 1/2 liter.

Cara membuatnya sangat mudah. Cukup dengan mencampurkan  semua bahan yang ada. Diaduk merata hingga MSG larut.
 Maskar juga menambahkan susu yang digunakan tidak harus baru. Bisa pula memakai susu yang sudah kadaluwarsa dan itu tidak berdampak buruk pada tanaman. Jika masih nihil, susu bisa diganti dengan extrajoss atau kukubima sebanyak 5 sachet. (dew/crew)

Email: dedewmae@gmail.com

Hewan Peliharaan Penghilang Stres

 Memiliki hewan peliharaan bisa menjadi hiburan tersendiri. Banyak orang yang menumpahkan rasa sepi dan sedih dengan bermain bersama hewan peliharaan mereka. Binatang kesayangan pun bisa menjadi obat pelipur lara dengan hanya mengurus atau melihat tingkahnya yang lucu. Oleh karena itu sang pemilik rela mengorbankan finansial mereka demi yang terbaik untuk peliharaan kesayangannya.
Seperti halnya Yudi, warga perumahan Nusa Indah yang memiliki dua ekor anjing dan seekor kucing Persia. Baginya memelihara hewan merupakan hobi yang dapat menghilangkan stres. Salah satu hewan peliharaan favoritnya adalah anjing jenis Siberiian Husky, anjing kutub yang mirip dengan srigala. Untuk perawatannya sendiri ia sudah menganggarkan dalam satu bulan kurang lebih Rp.900.000 sampai Rp 1.000.000 sudah termasuk makan. Baginya dana tersebut sebanding dengan jenisnya yang merupakan anjing ras. “Harus di tempat ac karena ini kan asalnya dari kutub. Terus dia juga rentan sama penyakit jadi harus dijaga banget dalam merawatnya. Flu dikit aja udah repot banget. Dia juga alergi sama daging ayam. Jadi dia makannya dog food sama daging sapi.” Ungkap Yudi ketika menjelaskan bagaimana duka dalam memeliharanya.
Exel, Yudi memberi nama, dibeli seharga Rp 4.000.000. Anjing yang sudah berumur 3 tahun ini merupakan binatang peliharaannya yang paling mahal sementara kucing persianya merupakan harga beli termurah, pun biaya perawatannya.
Sama dengan Destiana. Mahasiswa Universitas Tidar Magelang ini adalah salah satu pemelihara hewan kesayangan. Ia sendiri sudah memiliki 5 ekor kucing jenis persia dan kitten. Baginya hobi memelihara hewan itu asik. Bisa sebagai teman main dan hiburan. Dalam merawatnya Desti mengaku cukup mudah. “Tinggal kasih makan dua kali sehari pagi dan malam sama tiap bulan dimandikan.” Ceritanya.
Dalam sebulan Desti mengeluarkan kurang lebih Rp 150.000 per kucing sebagai biaya perawatan. Sementara harga belinya ketika itu dari Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Menurutnya mengeluarkan uang untuk hewan kesayangan bukan suatu masalah karena lebih banyak suka yang diperoleh dibanding dukanya. “Kucingku tuh lucu, ngegemesin, nurut, nggak rewel. Paling yang nyebelin pupnya itu suka sembarangan.” Ujarnya.
Memelihara binatang memang gampang-gampang susah. Yang terpenting kita memahami bagaimana cara perawatan dan rajin melakukan. Jika tertarik menjadi penggemar hewan peliharaan, Yudi memiliki saran sebelum membeli. “Sebaiknya belilah ketika masih kecil supaya ikatan batin dengan pemiliknya lebih kuat.” (crew)


Senin, 18 Januari 2016

Ibu (sebuah Puisi)

Ingin kutuliskan seribu rangkaian kata; untukmuSampaikan rindu tuk bertemu.
Tapi sia-sia
Aku sia-siakan kesempatan; melihatmu.
Setiap langkah, jejak pun mengabu.
Ingin rasanya kusampaikan rasa ini
Menghadap serta kubersimpuh, padamu.
Mengharap keihlasanmu.
Tapi sia-sia.

Raga ini mulai melemah
Aku hanya mampu tuk ber-ingin, sahaja.
Maafkan untuk air mata yang mengalir karenaku.
Untuk perkata yang meluncur dari lisanku.
Sampai akhirku, maafkan sisi ini.
Ingin selalu kusampaikan meski hanya satu kali
Namun,
Ego ini menjerat,
Terus menahanku bahkan untuk melihat.
Penyesalanku seperti jejakmu; mengabu.
Sampai akhirku, hanya satu ingin kusampaikan; Ibu
Sepenuh hatiku, aku menyayangimu.
Tidak sebesar rasa sayangmu, tapi aku menyayangimu.
Maafkan untuk kata yang tak tersampaikan,
ketika waktuku belum berlalu. (crew)




Oleh: Windi Meilita
Kontak Facebook: Windi Meilita