Kamis, 11 Februari 2016

Jadi Kampus Digital, UIN SUKA Tidak Becus

UIN-Permasalahan penginputan KRS (Kartu Rencana Studi) mahasiswa UIN Suka untuk semester ini, dapat dikatakan paling parah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya banyak mahasiswa mengeluh karena gagal login, tidak dapat membayar ukt, bahkan adanya perbedaan jadwal di jurusan dengan jadwal di SIA.

Untuk membantu mengatasi permsalahan tersebut, beberapa solusi pun telah dilakukan. Mulai dari perpanjangan penginputan KRS, dibuat web alternatif, dibuka posko KRS offline pada tanggal 9-10 februari, sampai pengunduran masa aktif kuliah selama satu minggu.

Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Lathiful Huluk mengatakan, masa aktif perkuliahan semester genap tahun akademik 2015/2016 yang direncanakan akan di mulai pada tanggal 9 februari, diundur sampai tanggal 15 februari. “Pemunduran masa aktif perkuliahan itu disebabkan beberapa pertimbangan. Belum semua mahasiswa bisa input KRS. Jadi itu akan mempersulit perkuliahan. Absesnsi juga belum bisa dicetak secara komplit. Jadi kita perpanjang dengan asumsi diadakan pengisisan KRS offline atau posko KRS untuk membantu mahasiswa,” terang Lathif,  Selasa (09/02/2016).

Bagi dia, perpanjangan hari libur ini juga merupakan solusi yang pasti harus dilakukan. Jika tidak diperpanjang, kuliah akan kacau dan mahasiwa yang belum input KRS juga akan dirugikan.
Berdasarkan  data dari PTIPD pada tanggal 5 februari, sudah ada 95 persen mahasiwa Fakultas Dakwah yang berhasil melakukan input KRS. Sayangnya, 95 persen itu belum tentu maksimal keseluruhannya. “Misalnya gini, mungkin ada satu mahasiswa yang sudah nginput satu mata kuliah, itu dianggap sudah nginput semuanya. Masalahnya begitu ya. Jadi ini 95 persen itu, belum tentu full dia sudah selesai KRS nya gitu,” jelas Lathif, disela-sela kegiatan nya mengurus posko KRS offline.

Presentase keberhasilan penginputan KRS Fakultas Dakwah sudah cukup memuaskan dibandingkan dengan fakultas lainnya. Di Fakultas Syariah dan Fakultas Sosial Humaniora (Soshum) misalnya. Baru berhasil melakukan input KRS sekitar 60 persen, bahkan kurang dari 50 persen.

Meskipun perkuliahan diundur selama satu minggu, hal itu tidak akan menggeser jadwal akademik lainnya, seperti pelaksanaan UTS atau pun UAS. Hanya saja, akan ada pemangkasan pelaksanaan UTS dari dua minggu menjadi satu minngu.

Lathif juga menuturkan beberapa manfaat bagi para dosen dan mahasiswa dengan diperpanjangnya hari libur ini. “Mahasiswa bisa menikmati liburan di rumah lebih panjang, lebih menyiapkan mental dan persiapan untuk kuliah. Bisa juga ke toko-toko buku yang ada, belajar tidak dibatasi dengan masuk kuliah. Belajar itu long life, seumur hidup dan sepanjang waktu. Perkuliahan bisa diundur tapi kalau belajar kan bisa dimana saja,” terangnya.

Bagi para dosen, perpanjangan hari libur ini juga dapat diamanfaatkan untuk melakukan penelitiaan, pengabdian masyarakat, membuat SAP dan bahan ajar, serta menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Seperti yang dikatakan Lathif, satu minggu sebelum masuk perkuliahan, SAP harus selesai dan dikumpulkan tanggal 10 Februari. "Sehingga, esok ketika perkuliahan sudah dimulai, mahasiswa sudah mendapatkan SAP dan dapat melaksanakan perkuliahan dengan nyaman dan aman," ujarnya.

Ada dua faktor utama penyebab SIA error menurut informasi dari PTIPD, berdasarakan keterangan Lathif. Pertama, kapasitas web yang minim akibat dari kurangnya dana. Kedua, kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM).

Jika tahun-tahun sebelumnya ada relawan dari mahasiswa untuk membantu penginputan KRS, sejak januari lalu volunteer dari mahasiwa itu sudah tidak diperpanjang. Sementara petugas TU belum cukup memadai untuk melakukan tugas web. “Untuk tahun ini gak ada volunteer, mulai januari kemarin. Tapi, ini sudah diantisispasi untuk ke depannya. Jadi masalah-masalah ini akan diselesaikan,” tutur Lathif meyakinkan.

Dari keterangan yang disampaikan WD I bagian akademik, dan karut-marutnya problem yang terus terjadi tatkala mahasiswa melakukan penginputan KRS maupun pembayaran, jelas mengindikasikan bahwa UIN Sunan Kalijga ternyata belum siap untuk berevolusi menjadi kampus digital. Apalagi yang disampaikan WD I yang mengatakan bahwa UIN Suka kekurangan dana untuk proses drai itu seperti menabur garam diatas luka, lagi-lagi mahasiswa yang harus menelan pil pahit dan menjadi korban dari tidak becusnya pengoperasian sistem yang terkesan dipaksakan dan digampangkan.

Kedepan, UIN Suka melalui elemen terkait harus evaluasi dan melakukan banyak pembenahan, dan berharap menghasilkan solusi yang bijak, supaya mahasiswa dan stakeholder tidak dirugikan terus menerus. Jika kejadian dari tahun ketahun seperti ini terus, lantas kemudian sudah pantaskah UIN Suka disebut kampus digital?

Penulis: Minal_Fatihah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar