Selasa, 21 Mei 2013

RAHASIA DI BALIK TUGU HINGGA KRATON


Oleh: Muhammad Adi Nugroho*

Siapa yang tidak tahu Yogyakarta? Kota yang lekat dengan predikat kota pelajar dan kota budaya.  Kenyamanannya terwujud dari jargonnya, “Yogyakarta Berhati Nyaman”. Kota yang memiliki sejarah panjang yang bermula dari era Majapahit – Demak – Pajang – Mataram Islam – yang pada akhirnya sampai pada Ngayogyakarta Hadiningrat. Kota ini mengusung tinggi konsep “memayu hayuning bawono”. Konsep yang selama ini diartikan sebagai suatu upaya dalam mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia melalui penciptaan keselarasan tatanan hidup antar sesama manusia dan Tuhan. Begitu pula dengan tata letak bangunan yang ada di kompleks kraton dan sekitarnya, juga memperhitungkan aspek filosofi, khususnya kosmologi semesta, hubungan manusia dengan mausisa, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
Salah satu contoh yang mengusug konsep “memayu hayuning bawono” adalah, Tugu Yogyakarta sampai dengan Kraton. Tugu Yogyakarta yang terletak di sebelah utara Kraton Yogyakarta merupakan batas utara Kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun  oleh Sri Sultan Hamengkubuono I, pada tahun 1756, dengan bentuk Golong – Giling ( golong=berbentuk bulat, pada bagian atas;giling=berbentuk pilar yang meruncing ke atas). Menurut Muhammad, salah seorang pengelola Kraton Yogyakarta, Golong – Giling mempunyi makna flosofis habluminallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan habluminnannas (hubunan manusia dengan manusia). Pada tahun1867 terjadi gempa bumi yang menyebabkan, bangunan ini megalami kerusakan yang cukup berat. Kemudian pada tahun 1889 bangunan ini di pugar oleh Sri Sultan  Hamegkubuono VII, tapi bentuknya diubah seperti tugu yang kita lihat sekarang ini.
Keindahan bangunan ini tidak berhenti sampai di Tugu Yogyakarta saja. Akan tetapi ada lagi jalan sepanjang 2 km yang menghubungkan tugu dngan kraton. Jalan ini juga memiliki makna filosofis yang tetap megusung konsep “memayu hayuning bawono”. Makna filosofis dari jalan ini bukan teretak pada bangunan jalannya, teapi tersirat dari nama jalannya. Ada empat nama jalan yang menghubungkan tugu Yogyakarta sampai dengan Kraton. Nama jalan itu adalah Jl. Margo Utomo – Jl. Malioboro – Jl. Margo Mulyo – Jl. Pangurakan.
Budaywan Emha Ainun Nadjib – ketika saya mendengar dan melihat “orasi budayanya” pada acara Panghargyan 1 Abad Sri Sultan Hamengkubuono IX, 12 April 2012 – meberikan interpretasi mengenai makna filosofi yang tersirat dari keempat jalan ini.
1.      Margo Utomo (sekarang Jl. Pangeran Mangkubumi)
Jalan ini dimulai dari tugu sampai dengan rel kreta apai (stasiun tugu). Secara etimologis kata margo utono ini berasal dari kata margo (margi/mergi) yang berarti jalan. Sedangkan utomo berarti utama. jadi margo utomo ini berarti jalan keutamaan. Makna secara filosofisnya adalah manusia harus mengerti keutamaan dan berjalanlah dalam kebaikan, jadi harus bias memilih mana yang baik dan buruk.

2.      Jalan Malioboro
Jalan ini dimulai dari rel kereta api sampai Toko Batik Terang Bulan. Malioboro ini berasal dari kata malio yang berarti jadilah wali. Seperti orang yang di suruh membuat warung,  maka pereintahnya adalah mrungo. Begitu pula dengan malio, orang disuruh untuk menjadi wali. Kemudian boro, yang berasal dari kata ngumboro (mengembara). Jadi makna Malioboro secara etimologis adalah jadilah wali yang mengembara. Setelah memilih jalan keutamaan (margo utomo), hendaklah ikuti ajaran wali dan jadilah wali dengan menyebarkan ajaran para wali, sebagaimana pengembara yang berjalan untuk menerangi kehidupan umat manusia.

3.      Jalan Margo Mulyo (sekarang Jl. Ahmad Yani)
Jalan ini dimulai Toko Batik Terang Bulan sampai titik 0 km (perempatan kantor pos besar). Kata margo mulyo berasal dari kata margo yang berarti jalan, seperti yang sudah diungkapkan di atas, sedangkan mulyo berarti kemuliaan. Secara etimologis margo mulyo berarti jalan kemuliaan. Setelah menemukan keutamaan hidup dan mengajarkan kebaikan menurut ajaran wali, maka akan diperoleh jalan kemuliaan.

4.      Pangurakan (sekarang Jl. Trikora)
Jalan ini dimulai dari 0 km (Kantor pos besar) sampai alun – alun utara keraton. Pangurakan berarti menolak, membuang, mengusir. Secara filosofis pangurakan berarti melepaskan hawa nafsu yang berhubungan dengan keduniaan.
Setelah melewati keempat jalan itu sampailah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Seseorang calon raja yang sudah bisa menempuh keempat  jalan itu pada akhirnya akan jumenengan di Bangsal Manguntur Tangkil (tempat singgasana raja). Uniknya lagi, tugu sampai dengan kraton (singgasana raja) berada dalam satu garis lurus /simetris (imajiner), yang bermakna seorang sultan akan selalu mengingat rakyatnya.
@@@
Diolah dari: Heryanto, Fredi. 2009. Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo
*Mahasiswa KPI 2011 UIN Sunan Kalijaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar