Selasa, 21 Mei 2013

Pancasila?



“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Firman Allah dalam sebuah surat Al-Baqoroh. Ternyata seorang kholifah itu adalah kita (manusia). Tentunya seorang yang berpengetahuan dan bertanggung jawab merupakan kunci dari sebuah pemimpin. Siapapun orangnya jika tidak memiliki kedua hal tersebut, pasti tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemimpin.
Pemimpin merupakan orang yang berani berada di depan ketika semua orang ketakutan. Hanya orang-orang pilihanlah yang bisa menempati posisi tersebut. Orang yang benar-benar telah mempunyai bekal sejak dini, mempunyai nyali bukan ambisi dan orang-orang yang beriman tentunya. Kita sering mendengar istilah, jika seseorang sudah menduduki kursi panas pasti akan lupa segala hal yang sudah menjadi misinya. Yang ada hanya ambisi untuk tetap menjabati kedudukan tersebut dan meraip uang sebanyak-banyaknya. Orang-orang tersebut merupakan orang yang terkikis pengetahuan serta imannya.
Sebelum menjadi seorang peminpin ia pro rakyat, setelah menjabat malah menjadi kontra rakyat. Semua janji yang pernah ia katakan kini menjadi sebuah bualan omong kosong. Kejadian demikian inilah yang musti kita perbaiki. Tahun 2013 kita buatdan kita godok kader-kader muda supaya anti dan tebal dengan kegiatan menyimpang seorang pemimpin. Jadikan kader yang berpengetahuan, tanggung jawab, jiwa nasionalisme tinggi dan beriman.
Sebenarnya menjadi seorang pemimpin akan terasa mudah jika sudah mengetahui dan mengamalkan nilai-nilai luhur dari pancasila. Dasar negara kita itu ternyata mempunyai nilai-nilai luhur, apabila dikaji akan memunculkan banyak penjelasan. Dalam istilah kitab kita mengenal tafsir. Yaitu kitab yang menerangkan atau mengkaji terhadap satu kitab yang lain. Nah pancasilapun perlu kita tafsiri supaya kelak jika menjadi pemimpin kita akan menjadi seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin.
Sila pertama menerangkan tentang tuhan. Hanya orang-orang yang berkeyakinan kuatlah yang bisa melakukan hal tersebut. Orang percaya pada sesuatu yang Maha berarti menganggap dirinya masih dibawah sempurna. Sebab dia mengakui bahwa ada yang lebih dibandingkan dengan dia. Seorang pemimpin jika memiliki sikap demikian berarti ia adalah pemimpin yang mau dikritik. Dia sadar bahwa dirinya jauh dari kesempurnaan dan dia juga mau mengubah hal tersebut. Sebuah kepimpinan demokrasi akan terwujud dari sikap yang demikian.
Sila kedua menjelaskan tentang tanggung jawab dan akhlak. “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sang pemimpin adil merupakan pemimpin dambaan rakyat. Berani menyalahkan pada yang salah dan berani membenarkan pada sesuatu yang memang benar. “Adil” mempunyai banyak tafsiran. Diantaranya, tidak berat sebelah, melaksanakan tugas sesuai dengan jabatannya, dan tak mau menerima apa yang tidak menjadi haknya.
Sila selanjutnya menganjurkan supaya adanya rasa persatuan. Sang pemimpin akan menjadi lebih baik jika ada rasa saling merasakan apa yang dirasakan bawahan. Pemimpin tidak harus selalu bertempat di atas atau di kursi panasnya saja. Sesekali terjun ke masyarakat dan merasakan apa yang dirasakan masyarakatnya merupakan hal sepele yang perlu dilakukan. Terjun langsung akan membuat rasa persatuan yang besar, sebab rakyat akan semakin merasa dirinya memang diperhatikan oleh pemimpin. Mereka bisa merasakan betapa dekat sang pimpinan dengan dirinya.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah komunitas apapun komunitas tersebut mesti ada sosok pemimpin yang mengomandonya. Tanpa adanya sang pengarah atau apapun sebutannya pasti komunitas tersebut tidak akan bisa berjalan. Entah sadar atau tidak kejadian tersebut bisa terjadi secara alami. Lihat saja ketika adik-adik SD sedang bermain, pasti ada salah satu diantara mereka yang menonjol dan mengarahkan yang lainnya. Sang pemimpin akan menyadari bahwa dirinya itu memang diperlukan dalam sebuah komunitas. Sila yang menyadarkan diri sendiri. Jika diri ini pribadi yang siap memimpin maka jangan ragu untuk melakukan aksi, tetapi jika diri ini merasa bukan pribadi pemimpin maka persiapkan diri untuk dipimpin.
Sila selanjutnya adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sila yang menjadi pedoman bagi pemimpin untuk mementingkan kemaslahatan ini menjadi sila penutup. Setiap pemimpin jika sudah memenuhi setiap hal dari sila satu sampai emapat tentunya akan tahu dengan sendirinya bahwa tanpa terciptanya kemaslahatan pasti tak akan ada kedamaian sejati. Kedamaian yang sejati akan dirasakan jika setiap unsur yang ada dalam sebuah komunitas tidak ada yang merasa dirugikan. Kepentingan sosial mempunyai nilai lebih ketimbang kepentingan individu. Jiwa sosialispun perlu dimiliki oleh pemimpin. Dengan jiwa tersebut sang pemimpin akan jauh lebih mendahulukan kepentingan sosial demi kemaslahatan sebuah kelompok yang ia pimpin.
Sebentar lagi akan ada pemimpin baru bagi kita. Semoga si pemimpin bari tersebut adalah orang yang faham dengan panca sila, dengan begitu ia akan menjadi seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin sejati. Siapun dia, dari mana, dan bagaimanapun kondisi ekonominya jika dia adalah orang yang tahu betul akan hal-hal tadi pastilah layak menduduki kursi kepemimpinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar