Jumat, 19 Mei 2017

Peraturan Untuk Dilanggar?

Sumber: http://kabarinews.com

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar keempat dunia dengan total populasi sekitar 255 juta penduduk yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.[i] Salah satu negara di Asia Tenggara yang terkenal karena kemajemukannya ini telah banyak disorot dari berbagai penjuru dan menarik  siapapun untuk datang berkunjung menyaksikan secara langsung. Budaya, bahasa, suku, agama dan ras berbaur menjadi satu di dalam bumi nusantara di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Heterogenitas yang melekat dalam diri Indonesia tak serta merta mendatangkan keuntungan. Ada beberapa aspek yang menjadikan Indonesia mendapatkan persepsi negatif, bahkan fenomena tersebut telah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Adanya berbagai macam peraturan yang berlaku merupakan bagian dari upaya menertibkan masyarakat sehingga tercipta kehidupan yang aman dan damai. Baik peraturan lisan maupun tulisan merupakan suatu hal yang telah disepakati bersama serta memiliki sanksi bagi siapapun yang melanggar.
Peraturan yang berlaku tidak semuanya bersifat mutlak. Ada beberapa peraturan yang setiap waktu mengalami perubahan. Namun bukan itulah yang akan dikritisi, melainkan kekonsistenan dan kepatuhan para pelakunya dalam melakukan setiap  peraturan yang berlaku. Sepertinya kita harus menanyakan kepada diri sendiri. Apakah selama ini saya selalu mematuhi peraturan-peraturan yang ada? Tentu dari pertanyaan tersebut hanya diri sendirilah yang mampu menjawabnya, karena diri sendiri tidak akan mungkin berbohong. Pernahkah anda di saat lampu lalu lintas berwarna merah, kendaraan anda tetap melaju? Pernahkah saat di lingkungan anda terdapat tulisan “Buanglah sampah pada tempatnya”, anda membuang seenaknya saja dimanapun anda suka? Dan pernahkah anda saat berada di lingkungan yang terdapat tulisan “No Smoking”, anda tetap menghisap rokok anda? Tentunya beberapa pertanyaan tersebut hanya diri kalianlah yang dapat menjawabnya.
Pertanyaan di atas merupakan sekelumit dari beberapa peraturan yang ada di lingkungan kita. Masalahnya adalah mengapa diri ini terlalu bebal untuk bisa memahami perintah yang sudah dituliskan dengan huruf-huruf yang begitu jelasnya. Kecuali penglihatan ini tak mampu untuk melihat atau tidak bisa membaca. Mirisnya lagi adalah ketika kita sudah membaca perintah tersebut dan pura-pura tidak tahu. Sementara sanksi-sanksi yang diterimanya telah membuatnya menjadi kebal bukan jera. Suatu hari saya nyaris menjadi pelaku pelanggaran peraturan. Di salah satu masjid universitas di Yogyakarta, terdapat bagian yang tidak diperbolehkan untuk sholat di tempat itu bahkan telah diberi tulisan “Mohon tidak sholat di sini”. Namun saya melihat masih ada beberapa orang yang tetap melakukan sholat di tempat tersebut padahal tulisan peringatan itu cukup jelas terbaca. Lalu teman saya yang berasal dari Sulawesi memperingatkan saya dengan mengatakan, (maaf dengan bahasa yang santai) “Lu berlajar bahasa Indonesiakan? Jelas-jelas udah ada tulisan gak boleh sholat di sini, ya jangan dilanggar.” Kurang lebih seperti itulah bentuk peringatan teman saya yang bermaksud baik mengingatkan saya akan peraturan tersebut. Dan di dalam hati saya mengucapkan “Terima kasih banyak” atas bentuk keperdulian teman saya tersebut.
Rasa patuh dan taat akan peraturan merupakan karakter yang seharusnya dilatih dan ditanamkan sejak dini, yakni melalui kebiasaan untuk mendisiplinkan diri dan memahami betul-betul bahwa sikap disiplin dan tanggung jawab yang dimiliki adalah untuk kemaslahatan. Bukan semata-mata hanya sebagai formalitas tunduk dan menghormati peraturan yang sudah dibuat.
Negeri Sakura dapat dijadikan salah satu contoh untuk penerapan sikap disiplin. Sudah familiar tentunya, bahwa Jepang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi berkat kedisiplinannya dan juga orang Jepang terkenal karena etos kerjanya yang luar biasa. Seperti apakah bentuk kedisiplinan yang membudaya di Jepang dan mampu menjadikan negara ini sukses?
1.      Prinsip Disiplin Samurai
Prinsip disiplin samurai yang mengajarkan untuk tidak mudah berputus asa. Pada awalnya prinsip disiplin samurai ini lahir dari harakiri (bunuh diri) dengan menusukkan pedang ke perut jika kalah bertarung. Dan prinsip tersebut ternyata masih awet dan tertanam hingga saat ini, namun digunakan untuk membangun ekonomi, menjaga harga diri, dan kehormatan bangsa secara teguh.
2.      Prinsip Bushido
Prinsip ini mengajarkan tentang semangat kerja keras yang diwariskan turun temurun dan melahirkan proses belajar yang tak kenal lelah.
3.      Konsep Budaya Keishan
Konsep budaya ini menuntut kerajinan, kesungguhan, minat dan keyakinan hingga akhirnya timbul kemauan untuk selalu belajar dari orang lain.
4.      Prinsip Kai Zen
Prinsip ini mendorong bangsa Jepang memiliki komitmen tinggi pada pekerjaan. Perlu untuk selalu melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan pemborosan.
5.      Prinsip jika perusahaan untung besar, pekerja juga akan untung
Prinsip inilah yang melahirkan sikap dan mental kerja yang positif.
6.      Malu pulang lebih cepat
Hal ini sepertinya berbanding terbalik dengan realita di Indonesia.  Tak banyak orang yang rela untuk lembur dan menyelesaikan pekerjaan mereka hingga rampung. Bahkan sebelum jam usai pekerjaan, sudah menyiapkan tas-tas mereka dan bersiap untuk meninggalkan kantor. Berbeda dengan Jepang. Orang Jepang berpandangan bahwa pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif. Bahkan tanpa adanya pengawaspun mereka dapat bekerja dengan baik, penuh dedikasi dan disiplin.
7.      Waktu kerja dan istirahat digunakan dengan baik
Ketika jam 8 pagi masuk kerja, tak ada lagi obrolan dan canda, mereka langsung bekerja di komputer masing-masing atau sibuk di depan workstation masing-masing. Sedangkan ketika jam makan siang, mereka menghentikan aktivitas dan bercanda ria dengan teman-teman mereka. Lah.. kalau di Indonesia gimana ya?? Enggak jam kerja enggak waktu istirahat kayaknya masih sempat untuk ngobrol.
8.      Tidur 30 menit di waktu istirahat
Jika 60 menit jam makan siang, rata-rata pekerja membagi 30 menit untuk urusan makan siang, 30 menit untuk tidur sejenak guna memulihkan energi lagi. Balance bukan???
9.      Disiplin pada hal kecil
    Langsung ke contohnya aja nih. Di Jepang jika ada sampah yang jatuh di area kerja, harus dipungut dengan tangan kosong, jika menemukan punting rokok atau permen karet, harus segera dipungut, tidak perduli siapa yang membuangnya dan tidak boleh berpura-pura seolah tidak melihatnya.[ii]

Beberapa bentuk kedisiplinan yang menjadi budaya Jepang di atas harusnya membuat iri siapapun yang mempunyai keinginan dan semangat untuk maju. Boleh gak sih ditiru? Harus. Jika kita masih memegang erat rasa “gengsi”, kapan kita akan maju? Malu, yang lain sudah bisa keliling dunia sedangkan kita masih berkutat di negara sendiri mencari strategi membenahi kerusakan yang terjadi. Sedangkan strategi tersebut sudah disediakan dan telah terbukti keberhasilannya. Budaya Keishan sepertinya patut ditiru, yakni untuk belajar kepada orang lain. Dalam hal ini kita dapat belajar kepada orang-orang Jepang.
Lalu kapan kita akan memulainya? Tidak  ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik. Berubahlah detik ini juga dan biasakanlah. Lalu ajarkan, tanamkan dan biasakanlah untuk keturunan-keturunanmu. Jika budaya tersebut terus dijalankan, cita-cita untuk menjadi bangsa dengan generasi-generasi uggul dengan mengedepankan kedisiplinan akan terwujud.
Mulailah untuk peka terhadap lingkungan di sekitarmu. Hal kecil yang dapat kalian benahi maka benahilah. Jika melihat sampah tercecer, maka pungutlah dan buanglah ke tempat sampah. Jika melihat puntung rokok, maka pungutlah dan buanglah ke tempat sampah. Jika berkendara, patuhilah warna-warna lampu lalu lintas yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama. Jika terdapat tulisan “No Smoking”, maka simpanlah dulu rokokmu dan carilah tempat yang disediakan untuk merokok dan jauh dari masyarakat. Dan segala macam peraturan lainnya. (Widya R/BUKIT)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar