Rabu, 27 Januari 2016

Sisi Lain Padepokan Bumi Langit

Padepokan bumi langit yang bertempat di Jalan Imogiri-Mangunan Km. 3, Desa Giriloyo, Wukisari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta  ini dibangun dengan latar belakang yang unik. Padepokan yang bernuansa pedesaan ini dibangun oleh seorang pria berkebangsaan Inggris yang beranama Iskandar Waworuntu pada tahun 2000.

Asal mula pedepokan ini adalah
didasari oleh perjalanan spiritual bertahap hingga mengantarkan pada kebenaran yang sebenarnya. Pria yang kerap disapa Pak Iskandar ini, mengaku telah tergugah hatinya untuk memeluk agama islam setelah melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Beranjak pemikiran dan pemahamannya tentang islam mengatarkannya untuk membangun padepokan bumi langit sebagai bentuk aktualisasi dirinya dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin modern.

Beliau mengaku turut prihatin dengan perkembangan zaman modern yang seolah-olah mendewa-dewakan teknologi industri, segalanya serba instan tanpa mempertimbangkan kesesuaian mana yang khaq dan bathil.
“Jadi kita pun tidak tahu dari mana barang tersebut berasal dan atas niat yang tidak kita ketahui.” Ungkapnya ketika ditemui di padepokan bumi langit belum lama ini.

Padepokan bumi langit ini merupakan padepokan yang mengembangkan pertanian terpadu dengan sistem permacultur. Permacultur disini berarti bahwa kesadaran dan pemeliharaan terhadap sebuah ekosistem pertanian yang didalamnya terdapat keberagaman, daya tahan, dan stabilitas. Secara philosophy diibaratkan seperti kerjasama antara manusia dengan alam, dan bukan menentang alam.

Sisi lain yang tersembunyi di balik bumi langit ini, Pak Iskandar memiliki pedoman mantap akan Islam Rahmatan Lil Alamin. Dimana pedoman islam ini berwujud pada menjaga dan memelihara terhadap anugerah alam yang diberikan oleh Allah SWT.

Dalam pembagian ruangan padepokan ini memiliki makna tersendiri, yakni antara ruang tamu (bumi langit luar), ruang keluarga dan pribadi (bumi langit dalam) diartikan sebagai proses bertahap mensucikan diri secara lahir dan batin. Ruang tamu ini memungkinkan kita untuk saling berhubungan dengan dunia luar untuk bertabayyun, syiar serta memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi oleh diri sendiri. Di ruang keluarga sudah mulai menerapkan konsep memasak yang dibatasi hanya direbus, dipanaskan oleh api, asap, sekam, atau uap air, agar mengurangi ketergantungan dengan dunia modern. Selanjutknya di ruang keluarga sudah tidak lagi menerapkan konsep memasak, semuanya berasal dari alam secara langsung.

Semua konsep ruangan yang tergambarkan tersebut hanyalah untuk berusaha  memenuhi kebutuhan sendiri (menerapkan permakultur) agar menegakkan tulang sulbi, yaitu makan jika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Jika dalam pengkonsumsiannya terdapat surplus hanyalah rezeki orang lain yang dititipkan Allah melalui kita.

Harapannya dengan penerapan yang berbasis alam ini akan dapat menyeimbangan alam semesta sebagaimana bentuk aplikasi dari Rahmatan Lil Alaminta. Bukan semata-mata tidak menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memcoba memanfaatkannya ke arah pemeliharaan yang baik. (crew)

Penulis: Ulfa Anjarwati

Kontak
Instagram: @ulfa_anjarwati
Twitter: @ulfaanjarwati
Facebook: ulfaa anjarwati

BLH; "Mari Menjaga Alam"

Badan Lingkungan Hidup DIY merupakan salah satu lembaga perlindungan sekaligus pelestarian alam yang berposisi sebagai pembuat rancangan undang-undang atau kebijakan terkait pelestarian lingkungan. Selaku Badan yang mengatur serta membuat rancangan, Teno Sulityanto memaparkan bahwa setiap kabupaten memiliki wewenangnya sendiri dalam mengembangkan kebijakan untuk pelestarian lingkungan.

Berkenaan dengan pelestarian lingkungan, BLH DIY membagi lingkungan dalam 3 aspek yaitu, air, tanah dan udara.

Selaku badan perumusan kebijakan, hal yang dilakukan oleh lembaga ini seputar pengamatan, pemantauan, sehingga ditemukan pemecahan.

Untuk aspek udara,  Teno Sulityanto menyampaikan bahwa hal yang mereka lakukan berupa pemantauan kualitas udara. Biasanya mereka melakukan pemantauan udara ambiyen (udara luar). Ini diambil menggunakan alat dan diukur zat-zat yang terkandung didalamnya. Yang termasuk udara ambiyen adalah gas NO, So, partikulat (asap). Setelah pemantauan dibuat laporan sebagai bahan acuan untuk penetapan kebijakan sekaligus pemecahan.

Menurutnya saat ini kondisi udara di DIY masih tergolong baik tidak seperti di Jakarta atau beberapa kota besar lainnya. Terhadap zat partikulat, mereka melakukan Uji emisi pada kendaraan-kendaraan di wilayah DIY.

Ada sekitar 2000 kendaraan yang telah melakukan uji emisi. Uji emisi ini  bersifat company, yang berada di setiap wilayah DIY. Untuk melakukan uji emisi ini , Badan Lingkungan Hidup Yogyakarta melakukan trik pencegatan kendaraan, salah satunya berada di dekat gedung TVRI.

Untuk kendaraan yang tidak memenuhi standar, BLH memberikan stiker sebagai bentuk teguran agar lebih menjaga lingkungan, kendaraan dan kehidupan.

Yang kedua, Air. Air terbagi menjadi 3 jenis, air Sungai  air sumur dan air laut. Kegiatannya juga sama, melakukan pemantauan, serta pendataan. Untuk air laut, mereka menguji apakah sesuai dengan baku mutu atau tidak. Air sumur tidak seluruhnya, hanya pada sumur-sumur yang  letaknya berdekatan dengan produksi limbah berlebih, seperti di dekat gedung-gedung tinggi, mal, hotel dll.

Setelah mendapatkan hasil dan membuat laporan, hal ini yang menjadi langkah awal untuk pelestarian alam kedepannya. Untuk bangunan-bangunan tinggi itu sendiri, setiap mereka harus melaporkan bagaimana mereka mengolah limbah tiap 3 bulan sekali. Dan  badan lingkungan hidup   harus memastikan atau mengecek kegiatan setiap satu bulan sekali.

Untuk jenis air sungai, pengambilan sampel air difokuskan pada pertumbuhan bakteri ecoli, misalnya di wilayah kali code didapati bahwa jumlah bakteri ecoli  tumbuh melebihi batas standar air.

Setelah mendapatkan hasil, mereka akan melakukan sosialisasi di wilayah tersebut, mulai dari himbauan untuk membersihkan sampah, menjaga kesehatan, membantu fisik sungai gar tidak terlalu dangkal atau terlalu dalem juga. Yang terakhir berupa melakukan sosialisasi untuk penyadaran lingkungan di masyarakat sekitar sungai, agar tidak meminum air mentah langsung dari sungai, tidak membuang limbah ke sungai.

Untuk kegiatan berkenaan dengan himbauan ini tidak hanya sekedar himbauan. Tapi mereka juga sudah membuat IPAL untuk menanggulangi permasalahan kebersihan air. Dan disarankan, apabila benar-benar dibutuhkan untuk waktu dekat melakukan pembangunana septic tank. Agar tidak terjadi pencemaran air yang lebih mengerikan lagi kedepannya.

Untuk aspek tanah, Teno Sulistyanto mengaku bahwa masih banyak pekerjaan seputar tanah yang belum bisa terselesaikan hal ini disebabkan munculnya perselisihan dengan pihak pertanian.

Namun arahan untuk tugas seputar tanah itu sendiri telah diturunkan pihak kementrian berupa tindak pendataan terhadap tanah khususnya yang banyak mengandung limbah P3 Seperti oli,bensin sisa2 baru bara, pembakaran batu bara. Bahan-bahan kimia. Saat ini mereka masih melakukan pemantauan daerah mana yang banyak terdapat limbah. Setelah itu yang mereka bisa lakukan hanya dalam bentuk himbauan dan konservasi yang sifatnya kampanye. Seperti membuat lomba, perintis lingkungan, terrific awward. Untuk yang konservasi mereka mendanai, menggarap, membngun. Kalo di tahun 2015 mereka membangun telaga, di daerah perkotaan.

Untuk pengendalian kerusakan melakukan penanaman di lahan kritis. Konservasi itu membangun sebuah lokasi yang digunkan khusus untuk keaneka ragaman hayati, untuk menghindari kepunahan tanaman-tanaman tertentu. Yang disebut taman kayati.

Pengembangan kelembagaan lingkungan hidup. Memfasilitasi, membina, beberapa organinsasi seperti bank sampah agar tetap eksis dalam menjga lingkungan. Setiap perusahaan di jogja wajib memiliki dokumen lingkungan. Dimana dalam dokumen tersebut wajib melaporkan bagaimana mereka mengolah limbahnya terhadap lingkungan.

Pendapat narasumber terkait kebakaran di merapi dan kabut asap yang berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kebakaran Hutan
Kebakaran di merapi, sepertinya terjadi karena faktor alam. api dari atas, akibat sambaran petir atau akibat adanya gesekan benda-benda tertentu di permukaan. Karena kondisi Indonesia yang berada di musim kemarau, gesekan dua benda memicu munculnya api dan
Apakah tidak ada perencanaan untuk wilayah yang belum mengalami bencana? Di lapangan ada yang mencari data, menganalisis kejadian-kejadian lapangan.  Ketika ada pengalaman mengenai suatu bencana di daerah yang berbeda, pasti telah disiapkan rancangan tugas serta program-program kerja untuk mengantisipasi terjadi bencana yang sama.

Untuk program tersebut, apabila telah dibentuk maka tanggung jawab dan bagian-bagiannya pun telah di rampungkan dan setiap penanganan masalah didasarkan pada SOP yang diberikan.
“Setiap daerah itu sudah ada tugasnya. Kebakaran hutan adalah ,  naungan dinas kehutanan bukan BLH. Penanganannya bukan untuk kebakaran tapi bencana alam secara global. Pastinya hal-hal terkait perencanaan tersebut telah disiapkan.” Jelas bapak Teno Sulityanto.

Kabut Asap
Pembakaran hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan dengan alasan untuk membuka lahan sebagai salah satu sumber pencaharian penduduk setempat, itu diperbolehkan. Karena pembakaran lahan di tengah musim kemarau merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan pencaharian penduduk.

Selain itu  Teno Sulityanto juga menjelaskan bahwa pembakaran lahan itu diperbolehkan berdasarkan peraturan daerah setempat. Hanya saja, kebetulan pembakaran dilakukan secara masal, ditengah kondisi alam yang tidak juga stabil.
“kita tidak bisa menyalahkan langkah dan tindakan yang mereka lakukan untuk membuka lahan baru, apabila kita tidak bisa memberikan solusi dan jalan keluar  kepada mereka” papar Teno.
Disamping itu, faktor kondisi alam juga memicu permasalahan kabut asap yang berlangsung lebih lama daripada tahun lalu.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pihak yang berwenang dan bertanggung jawab penuh dalam mengatasi sekaligus mengantisipasi permasalahan kedepannya telah melakukan perencanaan dan pemecahan. (crew)

Penulis: Windi Meilita
Kontak Facebook: Windi Meilita

Selasa, 26 Januari 2016

Sosial Media dan Dampaknya


Abad ini sosial media seperti facebook, bbm, path,dan twitter telah menjadi kebutuhan sebagian besar  masyarakat Indonesia. Tiada hari terlewatkan tanpa mengecek jejaring sosial. Fenomena sebelum makan memotret menu terlebih dahulu, kemudian meng-upload kemedia sosial sudah menjadi kebiasaan pemuda negeri ini. Hal tersebut dilakukan agar dibilang “kekinian”.
            Fenomena generasi menunduk pun sudah menjadi pemandangan umum. Dimana ketika berjalan sering kali kita lihat orang memainkan smartphone mereka. Tak dapat kita pungkiri bahwa sosial media menjadi hiburan tersendiri bagi kita yang memiliki aktifitas padat. Disela-sela kepenatan kita bisa mengobrol dengan teman yang terpisah ribuan kilometer jauhnya.
            Namun, yang menjadi permasalahannya adalah ketika kita terlalu asyik dengan dunia maya, bagaimana kehidupan kita di dunia nyata? Kebanyakan dari kita cenderung menjadi introvet. Mereka yang biasa berkoar-koar saat chating di dunia maya, menjadi cenderung pendiam di kehidupan sosialnya.
            Tak ada salahnya menyebut sosial media mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kita terlalu sibuk membangun dunia maya namun sering kali mengabaikan dunia nyata.  Intensitas mengobrol dengan keluarga berkurang, saat berkumpul dengan teman sibuk mengecek jejaring sosial. hal ini tidak bisa kita biarkan terus menerus karena akan merusak hubungan yang telah lama terjalin di dunia yang sesungguhnya.
            Kita perlu waspada karena sosial media  bisa membuat kecanduan. Hal tersebut tentu saja berpengaruh buruk terhadap psikis apabila kita tidak bisa mengontrolnya. kadang media sosial kita jadikan diary untuk mencurahkan segala hal, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan. Kita tidak memiliki ruang pribadi lagi karena segala yang kita rasakan selalu dibagi di sosial media.
            Menurut penelitian para ahli, gangguan psikis yang diakibatkan dari sosial media diantaranya :
1.      Social Anxiety Disorder
Apabila  sering merasa bahwa handphone kita berbunyi karena ada notifikasi dari media sosial, mungkin anda telah terjangkit sindrom ini. adanya rasa cemas untuk ditinggalkan follower dan komentar yang jelek dari teman sosial media juga merupakan tanda anda mengidap sindrom sosial media ini.
2.      Obsessive Compulsive  Disorder (OCD)
Gangguan psikis jenis ini bertanda-tanda saat anda tidak bisa meninggalkan ponsel barang sedetikpun. Hal ini tentu akan mengganggu aktivitas keseharian.
3.      Fear of Missing Out
Orang yang menderita sindrom ini akan terus meng-update kehidupan orang lain di sosial media. Hal tersebut ia lakukan secara terus menerus karena ia beranggapan bahwa hidup orang lain lebih indah dan sayang untuk dilewatkan. Hal ini akan berdampak negatif pada kehidupan sosialnya di dunia nyata, karena ia akan cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Jika kita amati, dampak negatif yang ditimbulkan dari sosial media sangatlah beragam. Oleh karena itu kita harus bijak dalam memanfaatkan akun sosial media kita agar tidak merugikan. Bersosial media tidak ada salahnya asal tidak mengaganggu kehidupan kita di dunia nyata. (crew)

oleh : Isti Khomalia
pengamat IT


Kontak
Instagram: @hey_amazingisty
Facebook: Isty Flo

Karena Perempuan Ingin Di Mengerti

 ilustrasi (mutiarabijak.com)

“Memanusiakan Manusia ”
Ya, ungkapan di atas seolah menjadi peribahasa sosial sebagai usaha untuk saling menghargai antara manusia satu dengan yang lainnya. Apalagi jika kita berbicara tentang sosok perempuan. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) penggunaan kata wanita sudah mewakili sebutan bagi kaum hawa. Bisa dibilang kata wanita sudah memenuhi standar etika dalam sebuah panggilan. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan jaman, penggunaan sapaan wanita cenderung bernilai rendah atau terkesan negatif. Maka sebutan perempuanlah yang relevan dalam KBBI sekarang ini.
Seorang perempuan yang familiar dengan perasaan sensitifnya ini, menginginkan perhatian dari orang sekitar. Baik itu dari orang tua, teman atau suaminya kelak. Bukan berarti perempuan itu sosok orang yang manja, yang selalu ingin diperhatikan orang lain. Jika kita sedikit mengulas sebelum masa perjuangan R.A. Kartini, perempuan seolah tidak ada harganya di mata halayak. Bak seekor burung yang terdiam dalam sangkarnya. Tetapi setelah adanya perjuangan beliau, peran perempuan mulai terlihat dari bilik-bilik nan menyuramkan.
Secara normatif perempuan dan laki-laki diciptakan dalam porsinya masing-masing. Titah seorang pemimpin yang melekat pada laki-laki tidak bisa ditorer dengan alasan apapun. Tetapi bukan berarti perempuan tidak memiliki kesempatan untuk berkarya. Istilah perempuan dijadikan dari tulang rusuk laki-laki beresensi bahwasannya antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang dilahirkan lebih dulu. Jadi laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk saling diakui keberadaannya.
Perempuan belum dikatakan sukses jika tidak bisa membimbing putra putrinya kelak. Memang benar adanya tugas tersebut adalah tanggung jawab kedua orang tua, tetapi bahasa ibulah yang pertama kali melekat dibanding bapak. Coba kita tanya pada anak-anak sekarang ini, tipe gedget apa yang paling menarik. Sampai-sampai penulis kalah karena ke-gaptek-kannya.
Faktor lingkungan yang semakin ekstrim harus diminimalisir dengan tingkat perhatian orang tua kepada si anak. Mata pelajaran agama yang mereka temui satu minggu sekali di sekolah tidak mencukupi tingkat religiusitas. Yang paling miris jika orang tua mempercayakan anak kepada baby sister. Karena kesibukannya dalam bekerja, sedikit sekali waktu yang digunakan untuk bersama sang buah hati. Apa yang menjadi sifat dan sikap dari pengasuhnya akan diikuti oleh anak. Karena pada masa golden age, anak paling mudah dalam proses meniru. Apalagi terhadap orang terdekatnya, mudah sekali pengaruh itu berkembang. Berperan sebagai aktifis atau bahkan sampai menjadi wakil rakyat, tentu porsi kegiatan di lapangan semakin padat. Kesegaran politik harus dia ciptakan demi mewakili masyarakat yang pro dengannya.
Ketenaran sosok perempuan di mata publik tidak akan berarti apa-apa selama tanggung jawab utamanya belum dipenuhi. Tak ada satupun yang bisa melarang perempuan untuk berkarya. Selama tidak melanggar syari’at yang sudah ditentukan. Karena “live is choice !”. (crew)

Na’imatus Sa’diyah

Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengakali Pestisida

Kudus-Jelang akhir Januari, para petani padi di Desa Jekulo Kabupaten Kudus harap-harap cemas. Pasalnya, kondisi cuaca yang tak menentu mengakibatkan kondisi padi mereka tak menentu pula.

Seperti yang dikatakan Imam, petani padi di kawasan Hadipolo menuturkan bahwa cuaca kali ini sulit ditebak. Hujan tidak selancar tahun sebelumnya. Cuaca panas tergolong mendominasi.
"Hujan malah sering terjadi di malam hari, dan itu berakibat buruk bagi tanaman. Mudah terserang hama misalnya," ujar Imam.

Untuk mengatasi hal tersebut, petani biasanya membeli pestisida yang telah dipasarkan. "Akan tetapi biasanya hasil tak sebagus yang diharapkan," imbuh Imam.
Harga pestisida yang relatif mahal dengan hasil panen kurang sepadan membuat Maskar Hadi, seorang petani asal Jati menciptakan inovasi pengganti pestisida. Berbekal ilmu yang ia peroleh saat kuliah di Jurusan Kimia, Maskar  mengkombinasikan peran air kelapa, tetes tebu, MSG (monosodium glutamat), dan susu cair untuk mengakali pestisida.
"Percobaan ini sudah kali kedua setelah sebelumnya berhasil. Saya harap kali ini pun sama," tegas Maskar.

Perbandingan biaya yang digunakan jauh di bawah harga pestisida di pasaran. "Kalau dihitung-hitung, bisa hemat 75% dibanding harga yang harus dibayar untuk sepaket pestisida," terang Maskar.
Bahan-bahan yang digunakan, diantaranya: air kelapa 5 liter, tetes tebu 5 kg, MSG (obat masak/mecin) 1/2kg, dan susu cair 1/2 liter.

Cara membuatnya sangat mudah. Cukup dengan mencampurkan  semua bahan yang ada. Diaduk merata hingga MSG larut.
 Maskar juga menambahkan susu yang digunakan tidak harus baru. Bisa pula memakai susu yang sudah kadaluwarsa dan itu tidak berdampak buruk pada tanaman. Jika masih nihil, susu bisa diganti dengan extrajoss atau kukubima sebanyak 5 sachet. (dew/crew)

Email: dedewmae@gmail.com

Hewan Peliharaan Penghilang Stres

 Memiliki hewan peliharaan bisa menjadi hiburan tersendiri. Banyak orang yang menumpahkan rasa sepi dan sedih dengan bermain bersama hewan peliharaan mereka. Binatang kesayangan pun bisa menjadi obat pelipur lara dengan hanya mengurus atau melihat tingkahnya yang lucu. Oleh karena itu sang pemilik rela mengorbankan finansial mereka demi yang terbaik untuk peliharaan kesayangannya.
Seperti halnya Yudi, warga perumahan Nusa Indah yang memiliki dua ekor anjing dan seekor kucing Persia. Baginya memelihara hewan merupakan hobi yang dapat menghilangkan stres. Salah satu hewan peliharaan favoritnya adalah anjing jenis Siberiian Husky, anjing kutub yang mirip dengan srigala. Untuk perawatannya sendiri ia sudah menganggarkan dalam satu bulan kurang lebih Rp.900.000 sampai Rp 1.000.000 sudah termasuk makan. Baginya dana tersebut sebanding dengan jenisnya yang merupakan anjing ras. “Harus di tempat ac karena ini kan asalnya dari kutub. Terus dia juga rentan sama penyakit jadi harus dijaga banget dalam merawatnya. Flu dikit aja udah repot banget. Dia juga alergi sama daging ayam. Jadi dia makannya dog food sama daging sapi.” Ungkap Yudi ketika menjelaskan bagaimana duka dalam memeliharanya.
Exel, Yudi memberi nama, dibeli seharga Rp 4.000.000. Anjing yang sudah berumur 3 tahun ini merupakan binatang peliharaannya yang paling mahal sementara kucing persianya merupakan harga beli termurah, pun biaya perawatannya.
Sama dengan Destiana. Mahasiswa Universitas Tidar Magelang ini adalah salah satu pemelihara hewan kesayangan. Ia sendiri sudah memiliki 5 ekor kucing jenis persia dan kitten. Baginya hobi memelihara hewan itu asik. Bisa sebagai teman main dan hiburan. Dalam merawatnya Desti mengaku cukup mudah. “Tinggal kasih makan dua kali sehari pagi dan malam sama tiap bulan dimandikan.” Ceritanya.
Dalam sebulan Desti mengeluarkan kurang lebih Rp 150.000 per kucing sebagai biaya perawatan. Sementara harga belinya ketika itu dari Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Menurutnya mengeluarkan uang untuk hewan kesayangan bukan suatu masalah karena lebih banyak suka yang diperoleh dibanding dukanya. “Kucingku tuh lucu, ngegemesin, nurut, nggak rewel. Paling yang nyebelin pupnya itu suka sembarangan.” Ujarnya.
Memelihara binatang memang gampang-gampang susah. Yang terpenting kita memahami bagaimana cara perawatan dan rajin melakukan. Jika tertarik menjadi penggemar hewan peliharaan, Yudi memiliki saran sebelum membeli. “Sebaiknya belilah ketika masih kecil supaya ikatan batin dengan pemiliknya lebih kuat.” (crew)


Senin, 18 Januari 2016

Ibu (sebuah Puisi)

Ingin kutuliskan seribu rangkaian kata; untukmuSampaikan rindu tuk bertemu.
Tapi sia-sia
Aku sia-siakan kesempatan; melihatmu.
Setiap langkah, jejak pun mengabu.
Ingin rasanya kusampaikan rasa ini
Menghadap serta kubersimpuh, padamu.
Mengharap keihlasanmu.
Tapi sia-sia.

Raga ini mulai melemah
Aku hanya mampu tuk ber-ingin, sahaja.
Maafkan untuk air mata yang mengalir karenaku.
Untuk perkata yang meluncur dari lisanku.
Sampai akhirku, maafkan sisi ini.
Ingin selalu kusampaikan meski hanya satu kali
Namun,
Ego ini menjerat,
Terus menahanku bahkan untuk melihat.
Penyesalanku seperti jejakmu; mengabu.
Sampai akhirku, hanya satu ingin kusampaikan; Ibu
Sepenuh hatiku, aku menyayangimu.
Tidak sebesar rasa sayangmu, tapi aku menyayangimu.
Maafkan untuk kata yang tak tersampaikan,
ketika waktuku belum berlalu. (crew)




Oleh: Windi Meilita
Kontak Facebook: Windi Meilita