Sabtu, 10 Desember 2016

Puisi - Duka Kelam untuk Alam

Cahaya langit sudah padam

Tinggal lah kelam termenung dalam kesepian

Dilihatnya padi-padi yang hijaunya memudar

Bermandikan hitam yang disuguhkan malam

Ia resah memandang hamparan sawah

Karena ia tahu usia mereka tak akan lama

Berat mengatakan sampai jumpa

Pada sekawanan padi

Yang pundi-pundi nya sering bernyanyi sore hari

Sawah-sawah akan digusur

Gedung-gedung lalu menjamur

Anak bayi tak lagi makan bubur

Para petani protes, turun ke jalan memikul cangkul

Kelam tak ingin kehilangan alam

Ia pun merapalkan doa-doa

Dan membenamkan wajahnya dalam tanah

Lalu tiada disangka

Bumi dan langit, tiba-tida menghidupkan orkestra murka



Penulis : Zakiya F.R

Aksi Solidaritas Menyambut Hari HAM Internasional

           Yogyakarta-Memperingat hari HAM (Hak Asasi Manusia) internasional, beberapa organisasi pemuda dan mahasiswa menggelar aksi di nol km pada sabtu (10/12). Termasuk didalam nya Gerakan Rakyat Demokrasi Lawan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Garda Lp Ham), Komite Bersama Reformasi dan Jogja Darurat Agraria (KBR-JDR) dan Keluarga Mahasiswa UII. Aksi dimulai pada pukul 14.00-18.00 WIB.

        Tujuan aksi ini adalah untuk menuntut dihentikannya berbagai pelanggran HAM, terutama yang berhubungan dengan isu-isu agraria di Yogyakarta. Seperti yang telah dituturkan oleh Bintang, Koordinator lapangan dari keluarga mahasiswa UII, bahwa ada banyak poin pelanggaran HAM dalam Undang-undang  Keistimewaan Yogayakarta (UUK) tentang pertanahan “kita ingin mendorong dan menggugah masyarakat supaya meraka faham terhadap masalah-masalah agraria yang ada di Jogja. Khususnya terkait dengan UUK yang dalam praktiknya mengarah pada penetapan kesultanan/pakulaman sebagai pemilik tunggal dari seluruh tanah di DIY”

       Selain orasi, ada pula pembacaan puisi dan pertunjukan musik dari para peserta aksi. Mereka juga membagikan selembaran kertas kepada pengunjung yang datang. Selembaran itu berisi penjelasan latar belakang diadakannya aksi tersebut, beberapa pernyataan sikap dan ajakan solidaritas kepada masyarakat untuk menggalang persatuan melawan segala bentuk pelanggaran HAM di Yogyakarta.

Penulis : Zakiya F.R.

Jumat, 09 Desember 2016

Esai - Strategi Pelestarian Budaya Indonesia

            Tanah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan beragam suku bangsa, ras, agama, ideologi, dan budaya membaur menjadi satu kesatuan yang utuh, yakni Nusantara. Multikulturalisme bukanlah sebuah halangan bagi bangsa ini, namun sebuah keunikan dan harga mahal yang patut dipertontonkon pada khalayak dunia. Komposisi etnis yang bervariasi dan beraneka ragam telah menampilkan Indonesia dari sisi yang berbeda dengan negara lain. Sehingga tak jarang banyak bangsa lain yang melirik Indonesia dengan segala kekayaan budayanya yang sarat akan nilai estetis.
          Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 32 ayat 1 menyebutkan “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai nilai budayanya.” Sedangkan pada ayat 2 menyebutkan “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.” Dengan adanya Undang-Undang tersebut, maka membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kemajemukan yang kompleks.

               Budaya masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun dan telah mengakar dalam kehidupan, tentu akan dipertahankan sekuat tenaga di tengah gempuran budaya baru yang datang silih berganti. Pikiran dan fisik tentunya terus bekerjasama demi mempertahankan eksistensi dari budaya tersebut. Perlu adanya tenaga baru, pikiran baru, dan semangat baru untuk terus menegakkan keberadaan budaya. Karena walau bagaimanapun budaya merupakan aset negara yang sangat berharga. Namun, mampukah budaya dapat terus hidup dalam goncangan dunia baru yang turut menghadirkan kebudayaan baru? Disinilah pemerintah beserta masyarakat dituntut aktif untuk terus mengupayakan agar budaya dapat tetap hidup di tengah arus modernisasi.

            Gejala “tsunami budaya” di era milenium ketiga ini semakin kuat dirasakan. Disamping terjangan teknologi yang memudahkan manusia, namun di sisi lain keberadaan budaya sebagai jati diri bangsa semakin terancam. Di era ini juga, secara gencar budaya-budaya asing turut mengintervensi budaya Indonesia serta meracuni moral anak bangsa melalui budayanya yang negatif. Sehingga tak pelak menimbulkan adanya culture shock atau guncangan budaya di tengah kehidupan saat ini. Beberapa kasus yang sempat menghebohkan media pemberitaan dan terkhusus masyarakat Indonesia adalah mengenai klaim negara tetangga terhadap beberapa kebudayaan Indonesia. Berdasarkan Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (FORMASBUDI) mencatat setidaknya ada sepuluh budaya Indonesia yang diklaim sebagai milik Malaysia. Ke-10 budaya tersebut, yaitu Batik, lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Kuda Lumping, Rendang Padang, Keris, Angklung, Tari Pendet dan Tari Piring, serta Gamelan Jawa. Permasalahan ini tentunya dapat dijadikan sebagai cambuk dan bahan introspeksi agar hal serupa tak berulang di kemudian hari yang jelas-jelas sangat merugikan negara.

                Saat ini sangat mudah untuk menemukan para pemuda yang bangga memamerkan gaya baratnya tanpa mereka sadari bahwa mereka adalah korban dari kontaminasi budaya barat. Minimnya apresiasi anak muda terhadap budayanya sendiri dan lebih memilih budaya-budaya luar yang serba glamor ketimbang memilih kesenian tradisional yang katanya “ndeso”. Mereka terlalu mudah untuk menyerap budaya-budaya luar tanpa adanya proses pemfilteran terlebih dahulu. Tetapi ketika budayanya sendiri sedang mengalami krisis dan diakui oleh bangsa lain, masyarakat Indonesia baru mulai tergugah dan ikut membela serta mengatakan “Tidak Terima” akan budayanya yang diklaim oleh negara lain. Tanpa adanya partisipasi melestarikan dan menjaga aset bangsa tersebut. Sehingga dalam hal ini penting adanya untuk selalu menanamkan dan mensosialisasikan budaya-budaya Indonesia kepada anak-anak bangsa mulai sejak dini. Dengan begitu rasa cinta akan budaya lokal akan semakin kuat dan mengakar dalam diri para generasi bangsa.

                  Dengan keanekaragaman budaya yang tersebar di Indonesia, namun hanya segelintir orang saja yang masih menekuni dan bersemangat untuk melestarikan budaya. Dan tentunya orang-orang ini patut untuk diberikan apresiasi terhadap usahanya tersebut. Regenarasi menjadi penting keberadaannya untuk dapat terus menjaga dan melestarikan keautentikan budaya Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya telah mengupayakannya. Sebagai contoh di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sekolah-sekolah di Yogyakarta memasukkan muatan lokal (mulok) berupa Bahasa Jawa dan keterampilan membatik. Ini menjadi satu langkah penting bagi upaya pelestarian budaya. Namun disisi lain keberadaan pengajar yang profesional masih menjadi kendala. Sehingga pelaksanaan muatan lokal (mulok) itu sendiri belumlah maksimal. Sesuai dengan fakta yang ada, kebanyakan para pengajar ataupun guru muatan lokal (mulok) merupakan guru-guru pengajar mata pelajaran wajib dan guru-guru tersebut mendapat tugas tambahan untuk mengajar muatan lokal (mulok). Disamping itu saat ini semakin langka orang-orang yang berniat mengambil pendidikan di bidang bahasa Jawa karena minimnya penghargaan dari pemerintah. 

                    Tak hanya Daerah Istimewa Yogyakarta saja, di sekolah-sekolah daerah lainpun turut memasukkan muatan lokal (mulok) di dalam mata pelajaran. Contoh lainnya di Jawa Barat terdapat muatan lokal (mulok) bahasa Sunda dalam mata pelajaran mereka. Kendalapun tak hanya berupa pengadaan pengajar, namun juga ruang lingkup penggunaan bahasa daerah tersebut yang akhirnya kurang diminati. Karena bahasa daerah hanya dapat digunakan di daerah yang bersangkutan. Kalaupun ada penggunaan bahasa daerah di luar daerah tersebut, itu hanyalah kaum minoritas yang menggunakannya. Muatan lokal berupa bahasa daerah menjadi suatu langkah guna melestarikan budaya dalam hal ini adalah bahasa di tengah maraknya penggunaan bahasa Inggris yang semakin dianjurkan. Namun mau tidak mau keberadaan bahasa Inggris haruslah diterima dengan tangan terbuka sebagai bahasa pemersatu di dunia. Sehingga dibutuhkanlah keseimbangan dan kebijakan diri dalam penggunaan bahasa tersebut. Dengan begitu apa yang diharapkan dapat terpenuhi dengan baik. 

                Belakangan ini semakin marak para wisatawan asing yang berkunjung ke pulau Jawa tak hanya kepentingan wisata semata, namun juga turut mempelajari budaya Jawa seperti bahasa Jawa, wayang, dan juga karawitan (seni gamelan). Kemungkinan terburuk berupa orang asing yang piawai melakoni budaya-budaya Jawa tersebut dibandingkan dengan masyarakat lokal tentulah menjadi permasalahan serius dan perlu dipertanyakan. Sebenarnya milik siapakah budaya tersebut? Hal tersebut tentunya tidak diinginkan bagi masyarakat Indonesia.
        
          Indonesia sepatutnya bercermin pada negeri Sakura, Jepang dalam hal pelestarian budaya tradisional yang terus dijaga eksistensinya hingga saat ini. Negara maju yang terletak di Asia Timur ini mampu tampil menandingi negara-
negara maju lain di Eropa maupun Amerika, setelah mengalami keterpurukan berupa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh pasukan militer Amerika dalam perang dunia II. Kemajuan negara Jepang dikarenakan pemerintah dan tokoh-tokoh penting dari negara tersebut selalu memberi pengajaran terhadap masyarakatnya agar menghargai dan melestarikan budayanya. Dan terbukti budaya Jepang mampu mendunia. Budaya-budaya Jepang tersebut diantaranya meliputi pakaian tradisional yaitu baju “Kimono” dan “Yukata”. Kemudian “Chadou” atau “Sadou” yang merupakan upacara minum teh di Jepang, origami yang merupakan seni melipat kertas, dan masih banyak lagi. Sehingga dalam hal ini Jepang turut melakoni apa yang dikatakan seorang ahli bahwasanya “Negara yang maju adalah yang masyarakatnya bisa menghargai budayanya.”ii Seorang seniman serba bisa, Didik Nini Thowok menjelaskan bahwa Jepang memiliki kepedulian tinggi dalam melestarikan kesenian tradisionalnya. Menurutnya masyarakat Jepang sangat mengapresiasi pergelaran kesenian tradisionalnya, dibuktikan dengan relatif mahalnya tiket untuk pertunjukan kabuki (seni teater asli negeri Sakura) yang membuat kesenian itu bergengsi. Sementara itu orang yang menonton pertunjukan tersebut pun mengenakan kimono yang menandakan sangar respect dengan pertunjukan tersebut.

                Untuk itu generasi muda Indonesia mulai saat ini harus jauh-jauh membuang gengsi yang tertanam dalam diri dan tak sungkan untuk belajar pada negara lain yang sukses melestarikan budayanya. Dengan proses belajar tersebut, selain untuk mengikat kerukunan antar negara disamping itu budaya yang telah menjadi aset negarapun terselamatkan keberadaannya. Kerjasama pemerintah dengan masyarakat menjadi kunci utama dalam misi pelestarian budaya. Kita bangsa Indonesia saja dapat menerima budaya luar dengan tangan terbuka, begitupun sebaliknya. Bangsa lain juga harus dapat menerima budaya Indonesia dengan tangan terbuka melalui misi-misi internasional dalam rangka mempromosikan budaya Indonesia. Dengan begitu bangsa lainpun akan mengakui keberadaan budaya Indonesia yang autentik dan sarat akan nilai-nilai.

               Oleh karena itu solusi yang dapat penulis berikan guna menjaga eksistensi budaya Indonesia agar tetap lestari adalah, pertama, adanya kemajuan zaman dengan segala budaya-budaya moderennya yang ditawarkan juga sekaligus sebagai ancaman bagi keberadaan budaya lokal, maka hendaknya dilakukan proses pemfilteran terlebih dahulu untuk kemudian diterima dalam kehidupan masyarakat. Perlu bertindak selektif dalam mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya agar tidak mengancam keberadaan budaya lokal itu sendiri. Kedua, pemuda merupakan harapan bangsa yang kelak diharapkan dapat melanjutkan tradisi dari bangsanya. Namun di sisi lain pemuda juga mudah untuk terlena dengan hadirnya budaya budaya modern. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan dan penanaman cinta akan budaya nasional sejak dini. Dengan begitu rasa cinta tersebut akan semakin kuat dan mengakar. Ketiga, regenerasi menjadi penting agar kelak akan lahir generasi penerus budaya nasional. Oleh karena itu bentuk dukungan pemerintah berupa penghargaan dan apresiasi sangat diharapkan guna menggugah masyarakat agar lebih tertarik dan menghargai budayanya sendiri. Keempat, untuk dapat membawa budaya Indonesia dalam kancah internasional dan diterima keberadaannya, hendaknya Indonesia lebih sigap dan tak sungkan belajar dengan negara lain yang berhasil melestarikan budayanya. Sehingga nantinya Indonesia akan mendapatkan pengetahuan baru dalam mengemas budayanya agar tampak bergengsi, namun tidak menghilangkan sisi keorisinalitasnya.

               Dengan solusi-solusi tersebut diharapkan budaya Indonesia dapat tetap bertahan walau zaman semakin melangkah maju dan melahirkan berbagai budaya budaya baru. Budaya Indonesiapun harus mampu berjalan di tengah krisis westernisasi yang dengan mudah menarik orang-orang di dunia. Sehingga nantinya budaya nasional masih dapat dinikmati oleh anak dan cucu kita.

Penulis : Widya Resti Oktaviana

Resensi - Berbeda Tapi Setara, Pemikiran Tentang Kajian Perempuan

Hasil gambar untuk buku berbeda tapi setara

Judul Buku                  : Saparinah Sadli : Berbeda Tetapi Setara, (Pemikiran Tentang Kajian Perempuan)
                                    Penyunting                  : Imelda Bachtiar
                                    Penerbit                       : PT. Kompas Media Nusantara
                                    Tahun terbit                 : 2010
                                    Jumlah Halaman          : 504 halaman


Perempuan atau Wanita?
Karna yang dibahas adalah jenis kelamin yang tergolong “perempuan” sebagai lawan jenis laki-laki, beberapa informasi juga mengatakan bahwa arti kata “perempuan” adalah yang di-empu-kan (empu artinya induk atau ahli) sehingga tersirat arti penghormatan. Dalam hal ini yang menjadi titik inti, adalah sebuah pernyataan tentang perempuan adalah sosok yang patut untuk dihormati. Bukan di sebabkan oleh perbedaan jenis kelamin semata, tapi meliputi banyak hal yang membuat perempuan menjadi sosok yang sangat di hormati.
            Beberapa hal menjadikan laki-laki dan perempuan berbeda dalam hal berfikir, bertinadk dan lain sebagainya. Beberapa tokoh beranggapan, bila perempuan boleh menyatakan perasaannya dan pemikirannya secara terbuka, justru akan menimbulkan resiko. Konsekuensi dari pemikiran tersebut ialah, hanya di dalam lingkungan budaya dimana perempuan mempunyai kedudukan dan status sosial yang sama dengan lelaki, perempuan akan lebih dapat menyatakan diri sebagaimana yang ia inginkan.
        Secara jasmaniah perempuan mengalami hal-hal yang khas. Keadaan khas tersebut adalah keadaan yang bersumber pada aspek biologisnya, dimulai dari siklus haid, hamil, melahirkan, menyusui, dan menopause. Namun secara sosial dan psikologi ada banyak hal yang menjadikan perempuan memiliki kondisi-kondisi bahkan sikap yang berbeda dengan laki-laki.

Kelebihan buku : merincikan pemaparan materi dengan lengkap dan mendalam.
Kekurangan buku : menggunakan Bahasa yang digunakan oleh kalangan akademis, sehingga masyarakat non akademis sulit menafsirkan isi buku.

Penulis : Alfy Inayati

Rabu, 07 Desember 2016

Komunitas CAC Coin A Chance Send kids Back To school


Yogyakarta- komunitas Coin A chance(CAC) merupakan sebuah komunitas yang memiliki misi sosial yang memberikan beasiswa pendidikan kepada setiap anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi melalui recehan atau uang logam. Dengan slogan salam receh komunitas CAC ingin mengajak masyarakat untuk peduli bahwa dengan uang logam sekalipun masyarakat bisa ikut andil dalam membantu anak anak yang kurang mampu agar tetap bersekolah.
Berawal dari gerakan CAC di Jakarta pada tahun 2008, yang kemudian menyebar di 13 kota besar di indonesia salah satunya adalah Yogyakarta. Komunitas CAC Yogyakarta berdiri pada tahun 2009. Coin A chanceYogyakarta sendiri terletak di Jalan Kaliurang Km 7,3 Jurugsari IV No. 9 Yogyakarta. Tujuan utama CAC adalah untuk membantu anak anak kurang mampu tanpa terkecuali dengan cara memberikan beasiswa dari SD hingga lulus SMA. Besaran beasiswa yang diberikan bervariasi dimulai dari SD 250.000, SMP 500.000, dan SMA sebesar 1.000.000. Uang tersebut diberikan kepada anak-anak setiap satu semester atau enam bulan sekali.
Anjas, koordinator event CAC mengatakan Coin A chance sendiri ingin memberikan kesempatan kepada anak anak yang kurang mampu untuk tetap bersekolah, sehingga ia tetap mempunyai masa depan yang cerah. Sampai saat ini total anak yang mendapatkan beasiswa ada 29 anak.
Banyak divisi yang terdapat dalam coint a chanceini ada divisi event, finance, admin, kreasi, dan juga divisi pendampingan. Divisi pendampingan ini merupakan divisi yang terjun langsung kelapangan untuk membantu dan mendampingi perkembangan adik asuh yang mengalami kesulitan dalam proses belajarnya.
Sebenarnya voluenter di CAC terbagi dalam beberapa divisi ada event, finance, admin, kreasi, dan juga divisi pendampingan. Tapi yang sering terjun kelapangan sih divisi pendampingan karena mereka yang pantau langsung dan mendampingi anak anak yang kesulitan dalam proses belajar” ungkap Anjas
Sementara itu, kegiatan rutin yang sering dilakukan komunitas ini adalah Coin Collecting Day. Coin Collecting Day merupakan kegiatan rutin dimana recehan yang sudah terkumpul dari celengan-celengan yang telah tersebar dihampir 30 lokasi tempat makan dan hiburan (dropzone) dihitung dan dikumpulakan menjadi satu.
Selain dari donatur, biasanya kita juga mengumpulkan uang lewat kegiatan Coin Collecting Day, jadi kita menyebarkan kaleng-kaleng ketempat-tempat yang biasa buat nongkrong atau kumpul anak muda. Nanti kita menaruh kaleng-kaleng itu ditempat kasir. Tempat tempat yang biasanya kita taruh sih ada di jolie, radio swaragama, Dagadu Jogja dll. “ papar anjas.

Ditulis Oleh : Ulfa Anjarwati 

Kamis, 01 Desember 2016

Soto ‘SAMPAH’, Sotonya Mahasiswa Jogja



Gambar sisip 2


Soto merupakan makanan yang sering kita dengar, soto memiliki aneka macam olahan dan keistimewaan yang berbeda beda dari setiap daerah termasuk di Yogyakarta. Pertama kali mendengar nama warung ini, saya sempat kaget karena menurut saya nama warung ini memiliki gambaran yang bertolak belakang dengan kenikmatan dan kelezatan dari soto sampah ini.
Gambar sisip 1
Nanang, pemilik warung soto mengatakan bahwa ia hanya mewarisi usaha kakeknya Ngadimin yang sudah merintis warung ini sejak 1979. Sebelumnya, warung sederhana itu menyajikan santapan lain seperti nasi rames, nasi lodeh, dan rupa lain. Namun orang kepincut dengan soto racikan Pak Ngadimin yang berbahan dasar lemak sapi atau gajih yang biasanya dibuang dan bertabur kecambah. Penyajian yang awut awutan menjadikan soto ini terkenal sebagai sampah. Menyantap soto di sini pun juga biasa-biasa saja, pada siang hari kita hanya akan menemukan gorengan sebagai teman makan soto. Tetapi saat malam hari kita bisa menemukan beberapa makanan atau lauk pauk untuk teman makan soto. Tempat warung soto ini berada di Jl. Kranggan tepatnya di dekat SPBU Kranggan.
Karena letaknya berada di dekat pinggir jalan, warung ini tampak sederhana hanya dengan lapak yang beratap sebuah terpal. Warung ini hanya menyediakan sedikit bangku sehingga bila persediaan kursi habis biasanya menggunakan tikar untuk lesehan disepanjang jalan. Untuk yang sering kelaparan ditengah malam tidak perlu khawatir karena Soto Sampah ini buka 24 jam nonstop. Pas banget dalam dinginnya malam bisa menikmati semangkuk soto sampah yang panas. Ditambah lagi dengan pemandangan pinggir jalan kota Jogja yang tak pernah sepi..
Kalau soal harga cukup lumayan murah, untuk satu porsi soto kita cukup membayar Rp 4000,00 belum termasuk minum dan makanan tambahan. Rasa yang istimewa dan buka 24 jam ini membuat orang yang merasa lapar malam hari tidak perlu bingung lagi.

Penulis : Ulfa Anjarwati

Rabu, 30 November 2016

Aksi Masyarakat Jogja Menyuarakan "Nusantara Bersatu"

Yogyakarta - Dalam rangka menyatukan keragaman bangsa Indonesia, "Aksi Massa Nusantara Bersatu" di gelar di Yogyakarta, Rabu (30/11) yang dimulai pukul 09.00 WIB - Selesai. Aksi diawali dengan kirab, peserta aksi berjalan kaki dimulai dari taman parkir Abu Bakar Ali, dilanjutkan menuju Kepatihan dan berakhir di Monumen Serangan Umum 1 Maret, titik nol kilometer, Yogyakarta yang merupakan titik fokus acara. Aksi tersebut digelar guna meneguhkan semangat kesatuan di tengah keragaman bangsa Indonesia. Turut hadir di dalamnya KOREM/072, POLDA DIY, organisasi sosial kemasyarakatan, ormas kepemudaan, pejuang veteran, rohaniawan lintas agama, kelompok perempuan, komunitas UMKM, kelompok profesi, dunia usaha, dan lain-lain.

Aksi dibuka dengan kesenian-kesenian kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara serentak, pembacaan pancasila, pembacaan pembukaan UUD 1945, orasi tokoh-tokoh masyarakat, pembacaan puisi, kemudian do'a lintas agama dengan perwakilan tokoh agama masing-masing, serta pembacaan deklarasi. Disatukannya elemen-elemen masyarakat ini merupakan suatu bentuk langkah bagi rakyat Indonesia yang beragam untuk selalu merapatkan barisan, dan meneguhkan keyakinan bahwa Indonesia adalah satu, yakni Nusantara. Sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Penulis : Widya Resti Oktaviana (Crew)